
LAHAT — Penyair Aan Kunchay menerbitkan antologi puisi Sekembalinya Aku Nanti, sebuah buku yang merekam perjalanan batin manusia melalui tema keluarga, religiusitas, sejarah, kebudayaan lokal, hingga kritik terhadap kerusakan lingkungan. Berangkat dari pengalaman hidup di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, antologi ini menghadirkan lebih dari sekadar kumpulan sajak, melainkan refleksi tentang hubungan manusia dengan tanah kelahiran, alam, dan perubahan zaman.
Buku yang dicetak pertama kali pada 2025 dengan ukuran 14 × 21 sentimeter ini ditulis oleh Aan Kunchay, dengan tata letak oleh Rizky Try Wardana serta ilustrasi dan desain sampul oleh Nia Imaniar Rahmah.
Dalam kata pengantarnya, Aan Kunchay menjelaskan bahwa puisi-puisi tersebut lahir dari pengalaman yang dijalani, disaksikan, dan dirasakannya selama bertahun-tahun. Pengalaman sebagai seorang ayah, suami, anak, sekaligus warga yang melihat perubahan kampung halaman menjadi sumber utama lahirnya karya-karya dalam buku tersebut. Ia memilih menggunakan bahasa yang sederhana agar pembaca memiliki ruang yang lebih luas untuk menemukan makna masing-masing.
Menurut Aan, kedekatannya dengan Sungai Lematang, Bukit Serelo, adat Besemah, keluarga, dan masyarakat Lahat membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Karena itu, berbagai nama tempat, tradisi, dan pengalaman lokal sengaja dipertahankan sebagai identitas yang diyakininya mampu berbicara kepada pembaca dari mana pun. Baginya, kisah yang berakar pada suatu tempat tetap memiliki daya jangkau universal karena seluruh manusia mengenal cinta, kehilangan, harapan, doa, dan kerinduan untuk pulang.
Kehadiran buku ini memperoleh apresiasi dari Bunda Literasi Kabupaten Lahat, Ir. Hj. Sri Meliyana. Dalam kata pengantarnya, ia menilai Sekembalinya Aku Nanti menjadi bagian penting dari tumbuhnya gerakan literasi di Kabupaten Lahat. Ia menyebut puisi-puisi Aan Kunchay lahir dari kejujuran emosi yang menghadirkan persoalan cinta, keluarga, lingkungan, sejarah, hingga kegelisahan sosial melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sri Meliyana juga menilai kekuatan antologi tersebut terletak pada kemampuannya menjadikan Lahat bukan sekadar latar cerita, melainkan ruh yang menghidupkan keseluruhan puisi. Sungai Lematang, Bukit Serelo, surau, ibu, adat, dan berbagai unsur budaya lokal hadir sebagai bagian yang menyatu dengan pengalaman batin penyair. Menurutnya, karya seperti ini penting karena mampu memperkaya khazanah sastra daerah sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap literasi dan kebudayaan.
Esai pengantar dalam buku tersebut ditulis oleh penyair Muhammad Rois Rinaldi. Ia membaca Sekembalinya Aku Nanti sebagai jejak perjalanan seorang penyair yang hidup di tengah peralihan zaman, dari masyarakat yang akrab dengan alam menuju kehidupan digital yang mengubah cara manusia mengingat dan berkomunikasi. Menurutnya, pengalaman sejarah tersebut membentuk kesadaran puitik Aan Kunchay sehingga puisinya tidak terjebak pada nostalgia, tetapi juga tidak larut dalam euforia modernitas.
Dalam pembacaannya, Rois Rinaldi menilai antologi ini memadukan pengalaman personal dengan persoalan sosial. Puisi-puisi tentang keluarga dan religiusitas berjalan berdampingan dengan kritik terhadap kerusakan lingkungan, eksploitasi tambang, bencana ekologis, sejarah lokal, serta identitas budaya masyarakat Lahat. Keseluruhan tema tersebut dipersatukan oleh satu gagasan besar bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari keluarga, alam, sejarah, kebudayaan, dan Tuhan.
Selain menawarkan keluasan tema, buku ini juga memperlihatkan keberagaman bentuk puisi. Aan Kunchay menghadirkan puisi satu larik, puisi naratif, puisi liris, hingga puisi reflektif tanpa terikat pada satu pola penulisan tertentu. Pilihan bentuk tersebut disesuaikan dengan pengalaman yang ingin disampaikan sehingga setiap puisi memiliki karakter yang berbeda, namun tetap berada dalam satu benang merah mengenai makna kepulangan sebagai upaya kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui Sekembalinya Aku Nanti, Aan Kunchay menghadirkan puisi sebagai ruang untuk mengingat, merawat identitas lokal, sekaligus merefleksikan perubahan zaman. Antologi ini tidak menawarkan jawaban atas seluruh persoalan kehidupan, melainkan mengajak pembaca meninjau kembali hubungan mereka dengan keluarga, lingkungan, sejarah, kebudayaan, dan Tuhan sebagai bagian dari perjalanan manusia untuk menemukan jalan pulang.








