Tangerang — Gagasan pendidikan yang menempatkan hati sebagai pusat proses belajar mengajar kini terdokumentasi dalam sebuah buku berjudul Mendidik dengan Hati: Konsep dan Penjabarannya di SMP PGRI 1 Tangerang karya A. Ghazali Taufiq. Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Gaksa Transkultura ini menjadi ikhtiar untuk merumuskan secara sistematis pendekatan pendidikan yang telah diterapkan di SMP PGRI 1 Tangerang.
Dalam kata pengantarnya, A. Ghazali Taufiq menyampaikan bahwa buku tersebut lahir dari pengalaman panjang dalam merancang sekaligus mengembangkan konsep Mendidik dengan Hati (MDH). Meski penyempurnaan naskah dilakukan ketika kepemimpinan sekolah telah berganti, gagasan besar MDH telah dirancang sejak dirinya masih memimpin SMP PGRI 1 Tangerang.
Menurut penulis, pendidikan tidak cukup hanya ditegakkan melalui aturan dan disiplin yang kaku. Pendekatan yang terlalu menitikberatkan pada hukuman dinilai belum mampu membangun kesadaran siswa secara utuh. Karena itu, konsep MDH menawarkan paradigma baru dengan menjadikan penghormatan, kasih sayang, dialog, serta pelayanan yang manusiawi sebagai fondasi utama pendidikan.
“Bukan sekadar mengajar, tetapi juga mendidik, membimbing, melayani, menasihati, melatih, hingga mengambil keputusan dengan hati,” demikian benang merah yang dijabarkan dalam buku tersebut.
Dalam prolog buku dijelaskan bahwa perubahan pendekatan pendidikan di SMP PGRI 1 Tangerang berangkat dari evaluasi terhadap sistem disiplin berbasis hukuman yang dinilai belum mampu menekan berbagai pelanggaran siswa secara signifikan. Sekolah kemudian mengembangkan pendekatan yang lebih menyentuh aspek kesadaran melalui hubungan yang hangat antara guru dan peserta didik.
Penulis mengungkapkan, setelah konsep MDH diterapkan, terjadi perubahan budaya sekolah yang cukup terasa. Hubungan guru dan siswa menjadi lebih bersahabat, suasana belajar lebih nyaman, serta tingkat berbagai pelanggaran disiplin dan kenakalan siswa dilaporkan mengalami penurunan berdasarkan catatan sekolah.
Buku ini tidak hanya memaparkan landasan teoritis mengenai makna mendidik dan hati, tetapi juga menyusun implementasi konsep tersebut dalam berbagai aspek pendidikan. Mulai dari mengajar, membimbing, membina, melayani, menghukum, hingga memimpin dengan hati dijelaskan secara sistematis dalam sepuluh pokok pembahasan yang menjadi inti konsep MDH.
Selain memuat kajian konseptual, buku juga diawali dengan puisi berjudul “Bukan Hanya Ruang Persegi” yang menggambarkan filosofi pendidikan humanis. Melalui puisi tersebut, penulis menegaskan bahwa belajar bukan sekadar aktivitas di ruang kelas, melainkan proses memanusiakan manusia dengan mengedepankan hati, logika, penghormatan, dan penghargaan terhadap setiap peserta didik.
A. Ghazali Taufiq turut menyampaikan apresiasi kepada Kepala SMP PGRI 1 Tangerang, Miftah Syarif, S.Pd., para guru, tenaga kependidikan, serta Johan Aldiano, S.Kom., yang berkontribusi dalam penyusunan dan penerbitan buku tersebut.
Diterbitkan oleh Yayasan Gaksa Transkultura di Kota Cilegon, Banten, buku Mendidik dengan Hati diharapkan menjadi referensi bagi guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan yang ingin mengembangkan budaya sekolah yang lebih humanis tanpa mengabaikan disiplin. Melalui pendekatan yang berpusat pada hati, penulis meyakini pendidikan akan lebih mudah diterima peserta didik karena menyentuh kesadaran terdalam manusia, bukan sekadar membangun kepatuhan terhadap aturan.









