
CILEGON — Penyair Malaysia, Irwan Abu Bakar, menerbitkan buku puisi Berona yang memuat 101 puisi hasil penulisan sepanjang 2015–2023. Buku yang diterbitkan Yayasan Gaksa Trans Kultura ini menghadirkan ragam tema, teknik, dan simbol budaya Melayu maupun dunia, sekaligus memperlihatkan perkembangan estetik penyair dalam rentang hampir satu dekade.
Selain menghimpun puisi, buku tersebut juga dilengkapi esai kritik sastra berjudul “Kepelbagaian dalam Buku Puisi Berona Karya Prof. Irwan” yang ditulis oleh Muhammad Rois Rinaldi, Wakil Presiden Gaksa ASEAN. Esai tersebut mengulas aspek simbolik, teknik penciptaan puisi, hingga posisi Irwan Abu Bakar dalam perkembangan sastra Melayu kontemporer.
Dalam kajiannya, Rois Rinaldi menilai kekuatan utama Berona terletak pada kepelbagaian tema dan kemampuan penyair mengolah simbol-simbol budaya menjadi pengalaman estetik yang kaya. Simbol-simbol tersebut tidak hanya berasal dari tradisi Melayu, tetapi juga budaya Cina, agama, politik, hingga kehidupan sosial modern.
Beberapa puisi yang mendapat perhatian antara lain “Sepipit Usaha”, “Puaka Kota”, “Alam Bersamanya”, “Suap Paus Puas”, dan “Tuzi 55896”. Melalui puisi-puisi tersebut, Irwan menghadirkan simbol-simbol budaya sebagai medium untuk membicarakan persoalan kemanusiaan, perubahan sosial, identitas, hingga spiritualitas.
Menurut Rois, penggunaan simbol budaya menjadi salah satu ciri khas buku ini. Tradisi Melayu, kepercayaan masyarakat, sejarah politik Malaysia, hingga filosofi budaya Cina dipadukan dalam puisi-puisi yang tetap terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsir.
Selain aspek tematik, Berona juga dinilai menampilkan keberanian dalam eksplorasi teknik penulisan. Berbagai gaya bahasa seperti metafora, alegori, paradoks, ironi, repetisi, dan penyimpangan gramatikal digunakan untuk membangun pengalaman membaca yang dinamis.
“Puisi-puisi dalam Berona tidak terjebak dalam kesamaan cara dan gaya. Setiap puisi menawarkan pendekatan yang berbeda sehingga pembaca tidak menemukan pengulangan estetik yang monoton,” tulis Rois dalam esainya.
Kajian tersebut juga menempatkan Irwan Abu Bakar sebagai salah satu tokoh penting sastra siber Malaysia. Sejak awal dekade 2000-an, Irwan dikenal aktif mengembangkan sastra digital melalui gagasan “dunia tanpa sempadan” yang mendorong keterhubungan komunitas sastra lintas negara di Asia Tenggara.
Secara keseluruhan, buku ini memuat puisi-puisi yang ditulis pada periode 2015 hingga 2023, mencakup tema kemanusiaan, agama, politik, cinta, budaya, pendidikan, hingga kritik sosial. Penyusunan berdasarkan tahun penulisan memungkinkan pembaca mengikuti perkembangan gagasan dan teknik kepenyairan Irwan dari waktu ke waktu.
Berona diterbitkan oleh Yayasan Gaksa Trans Kultura. Ilustrasi buku dikerjakan oleh Dinie Wan, desain isi dan sampul oleh Rizki Tri Wardana, serta tata letak oleh Yudha Dwi Taruna. Buku ini diharapkan menjadi salah satu kontribusi penting bagi khazanah sastra Melayu kontemporer sekaligus memperkuat dialog kesusastraan Indonesia dan Malaysia.








