Puisi selalu punya waktunya sendiri untuk dilahirkan. Begitu pemikiran saya ketika menerima naskah puisi Kembang Pihong karya Eli Awaliah. Bagaimana tidak, dalam naskah tersebut terdapat banyak puisi yang bertitimangsa puluhan tahun, bahkan usianya lebih tua daripada saya sendiri ketika pertama kali membaca naskah itu. Dapat dibayangkan betapa sabarnya ia membiarkan karya-karyanya tersimpan, menunggu waktu untuk bertemu dengan pembaca. Secara tidak langsung, apa yang dilakukannya telah menyindir saya dan mungkin generasi saya yang tidak sabaran dalam berkarya, inginnya lekas dikenal dan diakui. Dari sana, saya teringat pada gejala yang belakangan mengusik kehidupan sastra: orang begitu bernafsu tampil di media massa, seolah-olah tanpa pemuatan di media, kesastrawanannya akan kesepian dan tidak diakui. Dalam keadaan seperti itu, proses berkarya mudah bergeser menjadi perlombaan memperoleh pengakuan. Bahkan, ada yang sampai mengambil jalan pintas melalui plagiarisme.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa menyimpan karya selama puluhan tahun otomatis menjadikan seseorang penyair yang lebih baik. Karya tetap harus diuji melalui bahasa, pengolahan pengalaman, dan kepaduan bentuknya. Namun, jarak waktu yang panjang dalam naskah Kembang Pihong memberi kesempatan kepada kita untuk membaca proses kepenyairan Eli Awaliah melalui jejak karya yang bertanggal berbeda-beda. Ada pengalaman yang sudah lama mengendap, ada ingatan yang kembali ditulis, dan ada perubahan cara memandang kehidupan. Waktu di sini bukan hanya keterangan kapan puisi dibuat. Waktu turut menjadi bagian dari pengalaman yang dibawa puisi ke hadapan pembaca.
Dari waktu yang jauh itu, begitu banyak yang disuguhkan oleh Kembang Pihong. Ada kesaksian tentang tingkah pola manusia pada masa silam, kenangan personal yang kental dengan nuansa romantisme, rasa karsa seorang ibu yang penuh cinta dan harapan, serta kesangsian terhadap peradaban manusia hari ini. Saya melihat kumpulan ini sebagai semacam potret waktu. Seperti melihat foto-foto yang berjejer dengan latar belakang waktu berlainan, setiap puisi memperlihatkan pengalaman dan suasana yang tidak sepenuhnya sama. Perbedaannya tampak pada tema, nuansa, dan cara penyair mengolah bahasa. Ada puisi yang bertumpu pada kenangan, ada yang mengandalkan dialog singkat, ada pula yang menghidupkan benda-benda keseharian sebagai pembawa ingatan.
Perbedaan itu menarik karena memungkinkan kita membaca kelokalan sebagai sesuatu yang bergerak. Tradisi, benda, hubungan keluarga, dan lanskap alam tidak hadir dalam keadaan beku. Semuanya masuk ke dalam pengalaman personal penyair, kemudian memperoleh bentuk baru melalui puisi. Kelokalan dalam Kembang Pihong dengan demikian perlu dibaca melalui hubungan antara pengalaman hidup dan cara pengalaman itu diubah menjadi bahasa.
Secara umum, puisi-puisi dalam Kembang Pihong cenderung sederhana dalam penggunaan majas dan enjambemen. Kesederhanaan tersebut membuat pembaca dapat segera memasuki situasi yang dibangun penyair. Namun, kesederhanaan bahasa tidak selalu berarti kesederhanaan pengalaman. Ada benda yang tampak biasa, tetapi menyimpan hubungan dengan masa kecil, kebiasaan keluarga, kepercayaan masyarakat, dan perubahan zaman. Benda-benda semacam itu menjadi menarik ketika penyair berhasil membawanya keluar dari fungsi sehari-hari tanpa menghilangkan jejak asalnya.
Yang menjadikan Kembang Pihong cukup istimewa ialah khazanah lokalitas yang mendominasi sejumlah puisinya. Kelokalan itu tidak hanya muncul melalui pemakaian bahasa daerah yang diserap ke dalam puisi berbahasa Indonesia. Eli Awaliah justru melebur pengalaman lokal ke dalam situasi, hubungan antarmanusia, benda, dan cara tokoh lirik mengingat masa lalu. Sebuah puisi dapat terasa sangat lokal meskipun seluruh katanya berasal dari bahasa Indonesia. Yang menentukan ialah pengalaman macam apa yang dihidupkan oleh kata-kata tersebut.
Misalnya, pada puisi berikut.
NEK, AKU PULANG
Nek, aku pulang…
Tapi rasaku ini terpelanting kian jauh
Rindu tak terbalas
Karena kampung yang kutinggalkan
Tak lagi ramah, tak lagi mesra
Tidak tampak gadis-gadis sepertiku dulu
Mandi di sungai bersama
Di antara batu-batu bisu
Bernyanyi di bawah bulan purnama
Sesekali tersipu ketika lewat jejaka desa
(Rembulan kini, tak lagi istimewa
Nyala listrik menggantinya)
Nek…
Aku pulang membawa rindu yang tanah
Tanah yang abadi dalam ingatanku
Di dekat nisanmu aku melihat pohon
Pudak wangi, tumbuh
Tanah kelahiran, 15 Maret 2005
Tidak ada kata atau frasa yang secara langsung menyebut Cilegon, Banten, atau wilayah tertentu di Nusantara. Namun, suasana kelokalan terasa melalui pengalaman yang dihadirkan. Sungai, batu-batu, gadis-gadis yang mandi bersama, jejaka desa yang melintas, dan bulan purnama membentuk sebuah ruang sosial yang memiliki kebiasaan serta tata pergaulannya sendiri. Kelokalan itu lahir dari adegan, bukan dari penempelan nama tempat.
Perhatikan larik “Tidak tampak gadis-gadis sepertiku dulu”. Kalimat ini mengandung jarak antara masa ketika aku lirik masih menjadi bagian dari kehidupan kampung dan masa ketika ia kembali. Kata dulu menandai ingatan, sedangkan tidak tampak menyatakan perubahan pada keadaan yang dapat dilihat. Aku lirik pulang dengan membawa ingatan tentang sebuah kampung, tetapi kenyataan yang ditemuinya tidak lagi sama dengan kampung yang tersimpan di dalam ingatan.
Adegan gadis-gadis mandi di sungai bersama menjadi penting karena sungai berfungsi sebagai ruang pertemuan. Sungai menyediakan air, tetapi dalam pengalaman sosial yang dihadirkan puisi, sungai juga memungkinkan orang berkumpul, berbincang, bernyanyi, dan saling memperhatikan. Ketika jejaka desa melintas dan seorang gadis tersipu, kegiatan sehari-hari memperoleh lapisan perasaan. Perjumpaan berlangsung dalam ruang bersama, tetapi perasaan yang tumbuh di dalamnya tetap menyimpan jarak dan kerahasiaan.
Saya teringat pada cerita orang tua tentang kebiasaan gadis-gadis di kampung yang mencuci di kali. Kegiatan mencuci dapat menjadi kesempatan untuk bertemu atau melirik lelaki yang disukai. Pertemuan itu mungkin hanya berlangsung melalui pandangan mata, tetapi justru keterbatasan itulah yang memberi ruang bagi imajinasi dan penantian. Pengalaman semacam ini tidak harus dianggap mewakili seluruh masyarakat Banten. Namun, sebagai ingatan yang hidup dalam lingkungan keluarga dan kampung tertentu, pengalaman tersebut membantu saya memahami suasana yang dibangun Eli Awaliah.
Puisi ini tidak sedang mengajarkan bahwa hubungan pada masa lalu selalu lebih baik daripada hubungan masa kini. Yang terasa ialah kerinduan kepada tata pergaulan yang telah membentuk pengalaman aku lirik. Ingatan itu mempunyai nilai emosional karena berhubungan dengan masa ketika ia menjadi bagian dari kehidupan kampung. Ketika ia pulang, yang hilang bukan hanya kebiasaan mandi di sungai, tetapi juga ruang pertemuan yang dahulu memberinya pengalaman tentang kebersamaan, rasa malu, dan tumbuhnya perasaan.
Perubahan itu kemudian memperoleh bentuk yang lebih tegas melalui larik dalam tanda kurung:
“Rembulan kini, tak lagi istimewa
Nyala listrik menggantinya”
Rembulan dan listrik ditempatkan sebagai dua sumber cahaya, tetapi keduanya membawa pengalaman yang berbeda. Rembulan merupakan bagian dari alam yang hadir dalam pengalaman malam kampung. Cahayanya berhubungan dengan suasana, penantian, dan peristiwa yang dikenang. Listrik hadir sebagai penanda perubahan kehidupan sehari-hari. Ia menerangi ruang secara lebih teratur dan mengurangi ketergantungan manusia pada cahaya alam.
Kata menggantinya menjadi pusat persoalan. Secara harfiah, listrik dapat menggantikan fungsi bulan sebagai penerang. Namun, dalam puisi, penggantian itu meluas menjadi perubahan cara manusia mengalami malam. Bulan yang dahulu terasa istimewa kini kehilangan kedudukannya dalam pengalaman aku lirik. Alam masih ada, tetapi hubungan emosional yang dahulu menyertainya telah berubah.
Kita tidak perlu menganggap listrik sebagai sesuatu yang buruk. Kehadiran listrik membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Kritik yang dapat dibaca dari larik tersebut justru berkaitan dengan kemungkinan bahwa perubahan material menggeser cara manusia memberikan perhatian kepada lingkungan dan pengalaman hidupnya. Sesuatu yang dahulu membentuk kenangan dapat kehilangan keistimewaannya ketika kehidupan sehari-hari berubah.
Dengan demikian, kerinduan dalam puisi ini tidak berhenti pada keinginan mengulang masa lalu. Aku lirik berhadapan dengan kenyataan bahwa tempat yang sama dapat berubah makna karena manusia yang kembali telah membawa ingatan, sementara kampung yang didatanginya telah menjalani perubahan. Kepulangan secara geografis tidak menjamin seseorang dapat kembali kepada pengalaman yang dahulu dimilikinya.
Persoalan itu semakin terasa pada larik “Nek, aku pulang…” dan sapaan “Nek…” yang muncul kembali menjelang penutup. Sapaan kepada nenek menjadi semacam tempat kembali ketika kampung tidak lagi memberikan keramahan yang sama. Namun, nenek yang disapa ternyata sudah meninggal. Aku lirik datang kepada seseorang yang secara fisik tidak dapat menyambutnya lagi. Kepulangan itu pun berlangsung dalam keadaan yang timpang: orang yang dirindukan telah tiada, sedangkan tempat yang menyimpan kenangan telah berubah.
Pada bagian akhir, aku lirik menyatakan membawa “rindu yang tanah” dan menyebut tanah sebagai sesuatu yang abadi dalam ingatannya. Ungkapan “rindu yang tanah” terasa ganjil jika dibaca hanya sebagai susunan kata biasa. Kerinduan yang abstrak dipertemukan dengan tanah yang dapat disentuh dan dipijak. Tanah menjadi penghubung antara tempat kelahiran, ingatan, dan kematian. Ia merupakan ruang tempat seseorang tumbuh sekaligus ruang tempat orang yang dirindukan dapat dimakamkan.
Di dekat nisan nenek, aku lirik melihat pohon pudak yang tumbuh. Adegan ini membawa kepulangan menuju perjumpaan dengan sesuatu yang masih hidup. Nenek telah tiada, kampung telah berubah, dan bulan telah kehilangan keistimewaannya, tetapi pohon tetap tumbuh di dekat nisan. Kehidupan dan kematian hadir dalam satu ruang yang sama.
Pudak tidak harus diperlakukan sebagai simbol dengan satu makna yang berlaku bagi semua orang. Dalam pengalaman lokal tertentu, tumbuhan dan bahan yang berasal darinya dapat terhubung dengan pekerjaan rumah tangga, anyaman, pemakaman, atau ritual. Hubungan semacam itu perlu dijelaskan berdasarkan tradisi yang benar-benar dikenal oleh penyair atau masyarakat yang dibicarakan. Secara botani, Pandanus tectorius dikenal dengan sejumlah nama lokal, termasuk pandan duri dan pandan tikar, serta dimanfaatkan sebagai bahan anyaman. Namun, identifikasi tumbuhan dan penggunaan daunnya sebagai bahan kerajinan tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh makna ritual yang dilekatkan kepadanya.
Dalam puisi ini, petunjuk yang paling kuat justru terletak pada susunan “Di dekat nisanmu aku melihat pohon / Pudak wangi, tumbuh”. Kata tumbuh mengakhiri puisi dengan gerak kehidupan. Setelah kepulangan dipenuhi kehilangan, ada sesuatu yang masih bergerak dan bertahan. Pohon itu tumbuh di dekat nisan, sehingga kehidupan tidak dipisahkan secara mutlak dari kematian. Kenangan tentang nenek memperoleh bentuk melalui ruang pemakaman dan tumbuhan yang hidup di sekitarnya.
Pudak wangi juga membawa pengalaman indrawi ke dalam puisi. Kata wangi menghubungkan tumbuhan dengan penciuman, sementara tumbuh menegaskan keberlangsungan hidup. Kedua kata tersebut membuat penutup puisi tidak jatuh menjadi kesedihan yang sepenuhnya beku. Di dekat nisan, ada sesuatu yang dapat dicium dan dilihat terus tumbuh. Kepulangan memang tidak mengembalikan orang yang telah meninggal atau kampung yang dahulu dikenal, tetapi alam menyediakan tanda bahwa kehidupan masih berlangsung.
Pada puisi ini, kelokalan tumbuh dari hubungan antara ruang, kebiasaan, ingatan, dan kematian. Sungai bukan hanya sungai, bulan bukan hanya sumber cahaya, dan pudak bukan hanya nama tumbuhan. Semuanya memperoleh makna melalui pengalaman aku lirik. Inilah yang membuat lokalitas puisi terasa menyatu dengan keseluruhan bangunan, bukan berdiri sebagai keterangan budaya yang ditempelkan dari luar.
Pada puisi lain, Eli Awaliah menggunakan kata benda yang berkaitan dengan peralatan dan kebiasaan manusia di kampung masa lalu. Benda-benda itu mungkin masih digunakan hingga hari ini, tetapi hubungan sosial dan kepercayaan yang menyertainya dapat berubah. Sebuah benda dapat bertahan dalam kehidupan sehari-hari, sementara cerita yang dahulu mengitarinya perlahan kehilangan tempat. Puisi memberi kesempatan kepada cerita tersebut untuk hadir kembali, meskipun kehadirannya di dalam puisi tidak berarti bahwa seluruh masyarakat masih mempercayainya.
Perhatikan puisi berikut.
PULANG
Air leri mengalirkan rindu
Pulang,
pulanglah Abah!
Kala petang aku memanggilmu
Gentong pun melesat
Ke Selat Sunda
Wangi cengkeh merebak
Aku lari kencang
Ke Metropolitan
Cilegon, 20 Desember 2010
Ada tiga benda atau unsur yang segera menarik perhatian saya dalam puisi ini: air leri, gentong, dan cengkeh. Ketiganya berasal dari pengalaman keseharian, tetapi ditempatkan dalam hubungan yang tidak biasa. Air leri dapat dikenal sebagai air cucian beras. Dalam praktik rumah tangga dan pertanian tertentu, air ini dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Akan tetapi, ketika Eli Awaliah menulis “Air leri mengalirkan rindu”, fungsi praktisnya bergeser. Air tidak lagi hanya mengalir atau digunakan untuk keperluan rumah tangga. Ia menjadi saluran perasaan.
Pertanyaannya, mengapa rindu dialirkan melalui air leri? Puisi tidak memberikan penjelasan langsung, sehingga kita perlu membaca hubungan antara larik pertama dan seruan “Pulang, / pulanglah Abah!” Air leri ditempatkan sebelum panggilan kepada ayah. Susunan ini membuat air tersebut menjadi bagian dari suasana domestik yang melatarbelakangi kerinduan. Ia membawa pembaca ke lingkungan rumah, kepada kegiatan sehari-hari yang mungkin tampak kecil, tetapi justru membentuk pengalaman kedekatan antara anggota keluarga.
Saya teringat pada kebiasaan dan cerita yang hidup di lingkungan kampung tentang pemanfaatan air cucian beras. Namun, tafsir bahwa air leri merupakan kias khusus bagi kedekatan anak perempuan dengan ayahnya perlu dipahami sebagai pembacaan personal, bukan sebagai kepercayaan umum masyarakat tanpa dukungan sumber. Yang dapat dibaca langsung dari puisi ialah hubungan antara benda domestik dan kerinduan kepada Abah. Air leri menjadi pembawa rasa karena penyair menempatkannya dalam rangkaian yang mengarah kepada panggilan pulang.
Seruan “Pulanglah Abah!” juga menarik karena diulang setelah kata Pulang berdiri sendiri. Pengulangan itu memberi tekanan pada keinginan aku lirik. Kata pulang mula-mula hadir seperti sebuah perintah atau permohonan yang belum menemukan penerima. Pada larik berikutnya, panggilan itu diarahkan secara jelas kepada Abah. Dengan demikian, puisi bergerak dari rindu yang mengalir menuju suara yang memanggil seseorang untuk kembali.
Namun, panggilan tersebut tidak dijawab melalui percakapan. Puisi justru menghadirkan gentong:
“Kala petang aku memanggilmu
Gentong pun melesat
Ke Selat Sunda”
Perpindahan dari tindakan memanggil ke gentong yang melesat terasa seperti gerak dalam cerita rakyat. Gentong, benda yang biasanya diam dan digunakan untuk menyimpan air, tiba-tiba memperoleh kemampuan bergerak melintasi ruang. Perubahan fungsi ini menciptakan kejutan puitik. Benda domestik menjadi alat yang menghubungkan rumah dengan tempat yang jauh.
Dalam ingatan saya, ada cerita masa kecil tentang orang yang hendak memanggil anggota keluarga yang sedang pergi ke Mekkah melalui gentong. Saya pernah melakukan hal serupa ketika Abah saya pergi ke Mekkah. Saya melakukannya dengan sepenuh hati, meskipun tidak pernah mengetahui apakah suara saya benar-benar sampai kepada beliau. Pengalaman itu membantu saya memahami mengapa gentong dapat menjadi benda yang kuat dalam ingatan tentang kerinduan dan jarak.
Cerita tersebut tidak perlu dinilai hanya berdasarkan benar atau salahnya kemampuan gentong menyampaikan suara. Sebagai bagian dari pengalaman masa kecil, cerita itu memperlihatkan cara manusia menghadapi jarak ketika sarana komunikasi terbatas. Kerinduan kepada orang yang pergi jauh memerlukan suatu tindakan yang dapat dilakukan oleh orang yang ditinggalkan. Gentong memberi bentuk kepada harapan tersebut.
Dalam puisi Eli Awaliah, gentong yang melesat ke Selat Sunda menghubungkan rumah dengan ruang geografis yang lebih luas. Selat Sunda merupakan bentang perairan yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra, sedangkan Cilegon terletak di ujung barat laut Pulau Jawa, di tepi Selat Sunda. Kedekatan geografis ini relevan untuk membaca lanskap puisi, tetapi makna gentong tetap harus ditarik dari tindakan dan susunan lariknya. <Cite refs={[“turn374228view2”]} />
Yang menarik ialah bahwa gentong tidak melesat ke tujuan yang disebut secara pasti sebagai tempat Abah berada. Puisi hanya menyebut Selat Sunda. Ruang geografis tersebut menjadi semacam jalur yang menghubungkan kerinduan dengan jarak. Laut dan selat dapat dilalui, tetapi bagi orang yang menunggu, jarak tetap merupakan sesuatu yang harus dihadapi melalui imajinasi.
Setelah gentong bergerak ke Selat Sunda, muncul larik “Wangi cengkeh merebak”. Aroma cengkeh menghidupkan pengalaman indrawi yang berbeda dari gerak gentong. Jika gentong memberikan gambaran visual tentang benda yang melesat, cengkeh menghadirkan sesuatu yang menyebar melalui penciuman. Aroma tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan ketika hadir di sekitar seseorang. Dengan demikian, puisi bergerak dari benda yang seolah-olah melintasi ruang menuju aroma yang memenuhi ruang.
Kita perlu berhati-hati untuk tidak langsung menetapkan cengkeh sebagai lambang tertentu. Larik tersebut belum memberikan petunjuk yang cukup untuk menyimpulkan bahwa cengkeh selalu melambangkan rumah, kenangan, atau kepergian. Namun, dalam urutan puisi, aroma cengkeh hadir setelah gentong melesat ke Selat Sunda. Kedekatan itu membuat aroma tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari pengalaman yang menghubungkan rumah, panggilan kepada Abah, dan perjalanan menuju tempat yang jauh.
Perubahan gerak pada dua larik berikutnya juga menarik:
“Aku lari kencang
Ke Metropolitan”
Kata lari menghadirkan tubuh yang bergerak cepat. Setelah rindu dialirkan melalui air dan gentong dibayangkan melesat ke Selat Sunda, aku lirik kini menjadi subjek yang bergerak menuju Metropolitan. Puisi mengubah arah gerak dari panggilan kepada Abah menjadi perjalanan aku lirik sendiri.
Kata Metropolitan ditulis dengan huruf kapital dan ditempatkan sebagai larik tersendiri. Penempatan ini memberikan tekanan pada tujuan yang dituju. Metropolitan dapat dibaca sebagai gambaran kota besar atau ruang kehidupan modern yang berbeda dari lingkungan rumah yang dihadirkan melalui air leri, gentong, dan cengkeh. Namun, puisi tidak memberikan keterangan yang cukup untuk memastikan bahwa kata tersebut menunjuk pada satu kota tertentu.
Yang dapat kita baca ialah adanya perpindahan ruang. Aku lirik bergerak dari benda-benda domestik menuju kota besar. Perjalanan itu dapat dibaca sebagai pergeseran dari lingkungan yang akrab menuju kehidupan yang lebih luas, dari hubungan keluarga menuju dunia di luar rumah. Akan tetapi, puisi tidak menjelaskan apakah perpindahan tersebut merupakan pelarian, pencarian, atau keharusan hidup. Ketidakjelasan itu justru membuat larik penutup menyimpan kemungkinan makna.
Puisi Pulang dengan demikian mengandung dua arah gerak yang saling berhadapan. Aku lirik memanggil Abah agar pulang, tetapi dirinya sendiri berlari menuju Metropolitan. Rindu kepada rumah dan gerak menjauh dari rumah hadir dalam satu puisi. Pertentangan ini membuka pertanyaan tentang pengalaman orang yang meninggalkan lingkungan asal: apakah ia bergerak menuju tempat baru sambil membawa rumah dalam ingatan, ataukah kerinduan kepada rumah justru semakin kuat ketika jarak bertambah?
Kelokalan dalam puisi ini tidak berhenti pada air leri dan gentong sebagai benda khas kehidupan rumah tangga. Benda-benda tersebut menjadi bagian dari cara aku lirik mengalami jarak. Cengkeh, Selat Sunda, dan Metropolitan kemudian memperluas ruang pengalaman itu. Lokalitas bergerak dari rumah menuju lanskap geografis dan kota modern. Dengan demikian, pengalaman lokal tidak terkurung di dalam kampung; ia ikut dibawa ketika seseorang meninggalkan tempat asalnya.
Pada puisi lain, Eli Awaliah menunjukkan perenungan tentang asal-usul dirinya sebagai manusia yang berpuisi. Kelahiran di sini memperoleh pengertian yang melampaui kelahiran biologis. Penyair menghubungkan identitas diri dengan puisi, kepedihan, dan pengalaman bapak yang terapung-apung di laut. Berikut puisi yang saya maksud.
PERCAKAPAN DINIHARI
Aku lahir dari puisi,
betul kan, Mak?
“Kamu lahir dari kepedihan!”
Bapak yang membakarnya?
“Bapak terapung-apung di laut
sebelum kamu lahir.”
Cilegon, 15 November 2014
Puisi ini pendek, tetapi percakapannya menyimpan sejumlah hubungan yang tidak langsung. Pertanyaan “Aku lahir dari puisi, / betul kan, Mak?” dijawab dengan kalimat “Kamu lahir dari kepedihan!” Jawaban tersebut tidak mengikuti harapan yang terkandung dalam pertanyaan. Aku lirik mengajukan puisi sebagai asal-usul dirinya, sedangkan Mak mengembalikan asal-usul itu kepada pengalaman yang menyakitkan.
Benturan antara puisi dan kepedihan menjadi pintu masuk untuk membaca hubungan antara penciptaan dan pengalaman hidup. Puisi dapat menjadi ruang untuk menyusun pengalaman, tetapi pengalaman yang melahirkan puisi tidak selalu berasal dari kebahagiaan. Dalam percakapan ini, Mak seolah-olah mengoreksi pemahaman aku lirik tentang dirinya. Aku lirik memandang puisi sebagai asal kelahiran, sedangkan Mak mengingatkan bahwa ada kepedihan yang mendahului kelahiran tersebut.
Jawaban Mak juga mengubah arah pembicaraan. Pertanyaan awal berbicara tentang identitas, tetapi jawaban yang diterima mengarahkan perhatian kepada pengalaman keluarga. Puisi tidak menjelaskan secara langsung kepedihan macam apa yang dimaksud. Karena itu, kita tidak dapat menetapkan satu peristiwa tertentu sebagai sumbernya. Yang tersedia ialah hubungan antara kelahiran, kepedihan, dan pengalaman bapak yang berada di laut sebelum anak itu lahir.
Pertanyaan berikutnya, “Bapak yang membakarnya?”, terasa seperti loncatan. Kata membakarnya tidak memiliki rujukan yang sepenuhnya jelas. Apakah yang dibakar itu puisi, kepedihan, atau sesuatu yang telah dibicarakan sebelumnya? Puisi sengaja tidak memberikan penjelasan yang cukup untuk menetapkan satu jawaban. Ketidakjelasan rujukan ini membuat percakapan bergerak melalui asosiasi, bukan melalui hubungan sebab-akibat yang diterangkan secara langsung.
Jawaban Mak, “Bapak terapung-apung di laut / sebelum kamu lahir”, juga tidak menjelaskan secara literal apa yang dibakar. Mak justru membawa percakapan kepada keadaan bapak sebelum kelahiran anak. Hubungan antara pertanyaan dan jawaban tidak terletak pada penjelasan langsung, tetapi pada kemungkinan bahwa pengalaman bapak di laut merupakan bagian dari kepedihan yang diwariskan kepada ingatan keluarga.
Laut dalam puisi ini bukan latar yang dapat diabaikan. Bapak digambarkan terapung-apung, suatu keadaan yang mengandung ketidakpastian gerak dan arah. Orang yang terapung bergantung pada air dan keadaan yang mengitarinya. Ia dapat bergerak, tetapi tidak selalu menentukan ke mana dirinya akan dibawa. Gambaran tersebut membuka kemungkinan pembacaan tentang kerentanan, keterasingan, atau perjalanan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali seseorang. Namun, makna-makna itu tetap merupakan kemungkinan tafsir, bukan fakta biografis yang dapat dipastikan dari puisi.
Hubungan antara laut dan kepedihan juga tidak harus dibaca sebagai simbol yang berdiri sendiri. Keduanya menjadi bermakna karena disatukan melalui percakapan tentang kelahiran. Anak bertanya tentang asal-usul dirinya, Mak menjawab dengan kepedihan, lalu pertanyaan tentang bapak membawa pembaca kepada laut. Susunan itu membuat kelahiran seseorang terhubung dengan pengalaman yang telah berlangsung sebelum ia hadir ke dunia.
Di sini, puisi menyentuh persoalan tentang bagaimana pengalaman keluarga diwariskan. Anak tidak mengalami sendiri seluruh peristiwa yang dialami orang tuanya sebelum kelahirannya. Namun, pengalaman tersebut dapat hadir melalui cerita, sikap, ingatan, atau suasana yang membentuk kehidupan keluarga. Puisi ini tidak menjelaskan mekanisme pewarisan itu secara terperinci, tetapi percakapan antara aku lirik dan Mak memberi bentuk kepada kesadaran bahwa asal-usul seseorang dapat menyimpan pengalaman yang lebih tua daripada dirinya sendiri.
Judul Percakapan Dinihari juga mendukung pembacaan tersebut. Dini hari merupakan waktu peralihan antara malam dan pagi. Ia dapat menghadirkan suasana sunyi ketika percakapan berlangsung tanpa gangguan kegiatan sehari-hari. Namun, kita perlu membedakan kemungkinan suasana puitik dari fakta sosial. Tidak ada larik yang secara eksplisit menyebut bahwa percakapan berlangsung di dapur atau ketika ibu dan anak perempuan menyiapkan pekerjaan rumah. Pengalaman saya tentang kebiasaan keluarga di kampung dapat membantu membayangkan suasana dini hari, tetapi tidak cukup untuk memastikan tempat dan keadaan percakapan dalam puisi.
Yang lebih kuat untuk dibaca ialah fungsi dini hari sebagai penanda suasana. Percakapan berlangsung pada waktu yang dekat dengan pergantian hari, sedangkan isinya bergerak menuju asal-usul kehidupan dan pengalaman masa lalu. Waktu yang sunyi memberi ruang bagi pertanyaan yang mendalam. Aku lirik bertanya tentang dirinya, tetapi jawaban yang diterima membawa percakapan jauh ke belakang, ke masa sebelum kelahirannya.
Konteks Cilegon sebagai wilayah di tepi Selat Sunda juga memberi latar geografis yang relevan bagi citraan laut dalam puisi-puisi Eli Awaliah. Namun, kedekatan tempat tinggal penyair dengan laut tidak otomatis menjelaskan seluruh makna laut dalam puisinya. Makna itu tetap harus dibaca melalui kata terapung-apung, hubungan dengan kepedihan, dan posisi pengalaman bapak sebelum kelahiran anak. <Cite refs={[“turn374228view2”]} />
Puisi ini memperlihatkan bahwa kelokalan tidak selalu hadir melalui nama makanan, alat rumah tangga, atau istilah daerah. Laut dapat menjadi bagian dari pengalaman lokal sekaligus ruang simbolik yang memuat jarak, ketidakpastian, dan ingatan keluarga. Pengalaman geografis menjadi bahan puisi ketika dihubungkan dengan pengalaman batin.
Dari ketiga puisi tersebut, saya melihat satu kecenderungan yang menarik dalam Kembang Pihong. Eli Awaliah mengolah pengalaman lokal melalui benda dan ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sungai menjadi ruang pertemuan dan kenangan. Pudak tumbuh di dekat nisan, menghubungkan ingatan dengan kematian. Air leri membawa rindu kepada Abah, gentong bergerak menuju Selat Sunda, dan cengkeh menghadirkan aroma yang menyertai peralihan menuju Metropolitan. Laut menjadi tempat bapak terapung-apung, lalu masuk ke dalam percakapan tentang kelahiran dan kepedihan.
Benda-benda tersebut tidak mempunyai makna yang sama. Sungai, pudak, air leri, gentong, cengkeh, dan laut bekerja melalui hubungan yang berbeda dengan tokoh lirik. Justru perbedaan itu yang perlu diperhatikan. Lokalitas dalam puisi tidak terbentuk hanya karena suatu benda berasal dari lingkungan tertentu. Lokalitas terbentuk ketika benda tersebut menjadi bagian dari pengalaman, ingatan, kebiasaan, atau kepercayaan yang membentuk cara seseorang memandang kehidupan.
Hal ini juga menjelaskan mengapa penggunaan bahasa Indonesia tidak menghapus kelokalan puisi-puisi Eli Awaliah. Bahasa Indonesia menjadi medium untuk menyampaikan pengalaman yang berakar pada ruang dan kebiasaan tertentu. Pembaca yang berasal dari lingkungan serupa mungkin mengenali pengalaman tersebut melalui ingatan pribadi. Pembaca dari lingkungan lain tetap dapat memahaminya melalui hubungan yang dibangun puisi, meskipun mereka memerlukan pengetahuan tambahan untuk mengenali latar budayanya.
Dengan demikian, kelokalan tidak harus diperlakukan sebagai sesuatu yang eksklusif. Ia berangkat dari pengalaman tertentu, tetapi dapat membuka pemahaman yang lebih luas ketika diolah melalui bahasa yang padu. Sebuah sungai dapat menjadi ruang kenangan bagi satu masyarakat, tetapi hubungan antara tempat, masa lalu, dan kehilangan dapat dipahami oleh pembaca yang tidak pernah tinggal di sana. Yang membuat pengalaman itu sampai kepada pembaca ialah ketepatan penyair mengolahnya menjadi adegan dan hubungan makna.
Waktu telah mengajari Eli Awaliah untuk menjadi manusia yang penyair, dalam arti bahwa pengalaman hidupnya terus diolah menjadi bahan perenungan. Ia memahami tanah tempat berpijak dan ruang tempat menggantungkan harapan melalui benda-benda, hubungan keluarga, serta perubahan lingkungan yang masuk ke dalam puisinya. Namun, pengalaman itu tidak selalu hadir sebagai kenangan yang tenteram. Ada kepedihan yang menyertai kelahiran, kehilangan yang mengikuti kepulangan, dan jarak yang membuat panggilan kepada orang terdekat tidak segera memperoleh jawaban.
Kepedihan tersebut dapat dibaca pula dalam puisi “Dalam Dua Musim”, “Bising”, “Desember”, dan “Getarmu”. Sementara itu, perhatian terhadap gerak tubuh manusia dan pengalaman hidup tampak dalam “Foto Ibu” dan “Senandung Gembala”. Pembacaan terhadap puisi-puisi itu tentu memerlukan pengamatan tersendiri agar hubungan tema dan bentuknya dapat dijelaskan secara lebih terperinci. Namun, dari puisi-puisi yang dibahas di sini, terlihat bahwa ingatan personal menjadi salah satu jalan Eli Awaliah memahami manusia dan lingkungan yang membentuk kehidupannya.
Kembang Pihong menyimpan khazanah kelokalan yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Nilainya terletak pada kemampuan penyair menghidupkan pengalaman lokal di dalam tubuh puisi. Sungai, gentong, air leri, pudak, cengkeh, dan laut hadir sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki hubungan dengan ingatan dan perasaan. Benda-benda itu tidak berdiri sebagai hiasan budaya. Ia bergerak bersama pengalaman tokoh lirik, mengubah arah pembacaan, dan membuka lapisan makna yang tidak langsung terlihat pada permukaan kata.
Dari sana, saya memahami bahwa kelokalan dalam puisi bukan persoalan seberapa banyak kata daerah digunakan atau seberapa lengkap tradisi disebutkan. Yang lebih penting ialah bagaimana pengalaman yang berasal dari suatu lingkungan diolah menjadi bahasa yang memiliki daya hidup. Ketika itu berhasil dilakukan, puisi dapat membawa pembaca memasuki dunia yang mungkin asing baginya, tanpa kehilangan kekhasan pengalaman yang melahirkan puisi tersebut.









