Kegiatan

Terbaru

50 SEN BATASAN PUISI SEPERAK: MENANDAI KELAHIRAN PENYAJAK DARI BARAT

Cunong Nunuk Suraja

Lima puluh batasan puisi, lima puluh cara mendekati sesuatu yang sejak lama mengundang perdebatan: apakah puisi dapat didefinisikan secara tuntas? Di dunia maya, berbagai rumusan tentang puisi beredar sebagai usaha menangkap hakikatnya dari sudut pandang yang berbeda. Rumusan-rumusan itu memperlihatkan bahwa puisi memiliki banyak pintu masuk. Ada yang mendekatinya melalui bahasa, ada yang menekankan pengalaman batin, ada pula yang menempatkannya sebagai bentuk seni yang memungkinkan sesuatu yang sulit diucapkan memperoleh suara.

Dari lima puluh rumusan tersebut, tulisan ini mengutip definisi Tia Azulay:

“Poetry is an attempt to capture the essence of the chord struck in the poet by an instant of insight, in such a way that the same music will sound in the soul of the reader.”

Puisi, menurut rumusan itu, merupakan usaha menangkap inti getaran yang timbul dalam diri penyair ketika suatu pencerahan hadir, lalu membentuknya sedemikian rupa sehingga getaran serupa dapat berbunyi kembali dalam jiwa pembaca.

Kata chord dan music dalam definisi tersebut menarik karena menempatkan puisi sebagai peristiwa yang bergerak dari pengalaman menuju bahasa, kemudian dari bahasa menuju pengalaman pembaca. Penyair mengalami sesuatu, mengolahnya menjadi bentuk, dan membuka kemungkinan agar pembaca mengalami gema yang sepadan. Pengalaman pembaca tentu tidak harus identik dengan pengalaman penyair. Puisi justru memperoleh kehidupannya ketika bahasa memungkinkan pengalaman yang bersifat pribadi menjangkau orang lain.

Definisi itu dapat digunakan untuk membaca Muhammad Rois Rinaldi (MRR), penyair dari Cilegon, Banten, yang karya-karyanya memperlihatkan pertemuan antara kegelisahan personal, kesadaran sosial, renungan spiritual, dan pencarian tempat bagi seorang penyair di tengah kehidupan. Akan tetapi, untuk mengenali kekhasan seorang penyair, definisi umum tentang puisi perlu dilanjutkan dengan pembacaan terhadap karya konkret. Sebuah rumusan dapat menerangkan apa yang mungkin dilakukan puisi, sedangkan puisi itu sendiri memperlihatkan bagaimana kemungkinan tersebut diwujudkan.

Dalam konteks inilah tulisan tentang Rois menjadi menarik. Ia tidak hanya hadir melalui puisi-puisinya sendiri. Sosoknya juga muncul dalam puisi yang ditulis orang lain, lalu berhadapan dengan citra diri yang dibangunnya melalui karya-karyanya. Di antara kedua arah pandang tersebut, kita dapat menelusuri bagaimana seorang penyajak mulai dikenali, bagaimana kegelisahannya memperoleh bentuk, dan bagaimana lingkungan sosial serta kebudayaan ikut memasuki dunia puisinya.

Ketika orang lain membaca Rois

Yudi Damanhuri menulis puisi Sebungkus Malam dengan menyebut Muhammad Rois Rinaldi sebagai alamat puisinya. Sejak awal, malam menjadi ruang utama tempat sosok yang dituju dibayangkan.

Ia mengunyah malam
di mana sepi semakin dalam.

Kata mengunyah menghadirkan malam sebagai sesuatu yang masuk ke dalam tubuh melalui proses yang membutuhkan waktu. Malam tidak sekadar menjadi latar ketika seseorang menyendiri. Ia seolah-olah menjadi bahan yang diolah dan ditelan, sementara kesepian terus bertambah dalam. Citraan ini memberikan kesan bahwa malam merupakan bagian dari pengalaman batin sosok yang dibicarakan.

Namun, karena puisi tersebut ditulis oleh Yudi, kita perlu membedakan sosok Rois dalam imajinasi penulis dari pribadi Rois dalam kehidupan nyata. Puisi yang ditujukan kepada seseorang tetap merupakan karya dengan sudut pandang dan pilihan artistiknya sendiri. Ia memberi kita gambaran tentang bagaimana seorang penyair dibaca oleh penyair lain, bukan akses langsung untuk memastikan seluruh keadaan batinnya.

Perbedaan itu justru memperkaya pembacaan. Dalam Sebungkus Malam, sosok yang dituju ditempatkan dalam hubungan dengan kesepian, kepercayaan terhadap yang gaib, waktu yang menua, dan keinginan untuk pulang. Malam menjadi ruang yang menampung semua kecenderungan tersebut. Ia dapat menyiratkan waktu untuk merenung, tetapi juga ruang keterasingan ketika seseorang merasa tertahan dari kehidupan yang lebih luas.

Gambaran itu berlanjut dalam puisi Yudi yang lain, Kepada Muhamad Rois Rinaldi:

Helai-helai sajak
yang kau injak
adalah pekik ombak–
memelukmu pada sesak.

Di sini, sajak tidak diperlakukan sebagai benda yang tenang. Ia memiliki suara, bahkan pekik, seperti ombak yang bergerak dan menghantam. Kata injak menghadirkan hubungan fisik antara sosok penyair dan sajak-sajaknya, sedangkan memelukmu pada sesak menciptakan hubungan yang paradoksal. Pelukan lazimnya memberi rasa aman, tetapi pelukan dalam puisi ini justru berhubungan dengan kesesakan.

Paradoks tersebut memungkinkan pembacaan tentang hubungan penyair dengan pekerjaan kreatifnya. Sajak dapat menjadi ruang pengungkapan diri sekaligus sumber tekanan batin. Ia memberi jalan untuk menyampaikan pengalaman, tetapi proses penciptaannya juga dapat membawa penyair berhadapan dengan hal-hal yang mengganggu ketenteraman dirinya.

Hubungan itu selaras dengan gambaran Rois sebagai penyair yang akrab dengan kegelisahan. Meski demikian, keselarasan tersebut sebaiknya dipahami sebagai pertemuan antara citra yang dibangun Yudi dan kecenderungan yang dapat ditelusuri dalam puisi Rois sendiri. Puisi Yudi menyediakan sudut pandang dari luar; karya Rois memberi kesempatan kepada kita untuk memeriksa bagaimana kegelisahan itu bekerja di dalam bahasa yang ia ciptakan.

Dua puisi Yudi tersebut dengan demikian memiliki fungsi lebih jauh daripada sekadar memberi ucapan atau penghormatan kepada seorang kawan. Keduanya memperlihatkan bahwa identitas penyair dibentuk pula melalui pembacaan orang lain. Seorang penyair hadir dalam ruang sastra bukan hanya melalui apa yang ia katakan tentang dirinya sendiri, tetapi juga melalui cara karya dan kehadirannya ditanggapi oleh sesama penulis.

Cermin yang tidak sepenuhnya utuh

Jika Yudi menggambarkan Rois melalui malam, kesunyian, dan sesak, puisi Melankolia membawa kita memasuki wilayah yang lebih dekat dengan konflik batin aku lirik.

Aku selalu terjebak dalam
pusaran
antara meraih dan melepas. Mestinya tak lagi
ada kecurigaan pada cinta
sebab takut
suatu ketika tersingkir dan sakit
bukan lantaran ditinggal pergi,
tetapi datang yang lain.

Pusaran merupakan citraan yang tepat untuk menggambarkan keadaan ketika seseorang terus bergerak tanpa benar-benar mencapai tempat yang dituju. Aku lirik berada di antara dua dorongan: meraih dan melepas. Ia ingin memiliki kedekatan, tetapi kedekatan itu justru membuka kemungkinan kehilangan. Keinginan untuk mencintai bertemu dengan kecemasan akan tersingkir ketika hadir orang lain.

Konflik ini membuat Melankolia bergerak melampaui kesedihan umum tentang cinta. Sumber kecemasan aku lirik bukan semata-mata kepergian seseorang. Yang lebih mengusik ialah kemungkinan dirinya digantikan. Perbedaan itu penting karena memperlihatkan bahwa rasa sakit berkaitan dengan posisi diri dalam hubungan: apakah ia masih dipilih, masih dibutuhkan, dan masih memiliki tempat.

Ungkapan meraih dan melepas memadatkan konflik tersebut ke dalam dua tindakan yang berlawanan. Meraih berarti mendekatkan sesuatu kepada diri, sedangkan melepas berarti membiarkannya pergi. Akan tetapi, aku lirik tidak berhasil menetapkan salah satu sebagai pilihan yang menenteramkan. Ia tetap terjebak dalam pusaran karena kedua kemungkinan sama-sama mengandung risiko.

Kalimat Mestinya tak lagi ada kecurigaan pada cinta memperlihatkan adanya kesadaran terhadap keadaan dirinya. Aku lirik mengetahui bahwa kecurigaan seharusnya dapat ditinggalkan, tetapi pengetahuan itu belum mampu membebaskannya dari ketakutan. Ada jarak antara apa yang dipahami dan apa yang sanggup dijalani. Jarak tersebut menjadi pusat kegelisahan puisi.

Pembacaan ini membuka kemungkinan untuk menghubungkan Melankolia dengan citra Rois dalam puisi-puisi Yudi. Malam, sesak, dan pusaran sama-sama menghadirkan pengalaman batin yang sulit mencapai ketenangan. Namun, hubungan itu tidak perlu dipaksakan menjadi kesimpulan bahwa semua puisi Rois berasal dari satu keadaan psikologis yang tetap. Karya sastra dapat mengolah berbagai pengalaman dan kemungkinan perasaan. Yang dapat kita telusuri ialah pola kegelisahan yang berulang serta cara masing-masing puisi memberinya bentuk.

Dalam Melankolia, kegelisahan memperoleh bentuk melalui pertentangan tindakan dan penjelasan yang mengarah kepada sumber ketakutan. Aku lirik tidak sekadar menyatakan dirinya sedih. Ia mengurai mekanisme yang membuatnya gelisah: keinginan untuk meraih memunculkan kecemasan akan kehilangan, sementara kecemasan akan kehilangan mengganggu kemampuannya mempercayai cinta.

Dengan cara itu, puisi memperlihatkan bahwa citra diri tidak pernah sepenuhnya sederhana. Seseorang dapat memahami apa yang semestinya dilakukan, tetapi tetap kesulitan melepaskan ketakutan yang menguasainya. Cermin dalam pembacaan ini bukan benda yang memantulkan wajah secara utuh. Ia lebih menyerupai ruang tempat seseorang melihat pertentangan yang belum berhasil diselesaikannya.

Panggung sosial dan keruntuhan ukuran moral

Kegelisahan Rois memperoleh cakupan berbeda dalam Prolog Pementasan. Jika Melankolia menempatkan konflik pada hubungan personal, puisi ini memindahkan perhatian ke panggung sosial, tempat peran, kekuasaan, dan penilaian moral saling bertukar posisi.

lawanku bisa memerankan apa saja
menjadi raja Fir’aun, Isa, Hitler,
Yahudi, Adam, Setan, atau
tuhan sekalipun!

Kata memerankan menjadi kunci pembuka. Identitas seseorang diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat dikenakan dan diganti sesuai skenario. Tokoh-tokoh yang disebutkan berasal dari latar sejarah, agama, dan mitologi yang berbeda. Penyandingan mereka memperluas panggung imajinasi sekaligus menimbulkan ketegangan: jika siapa pun dapat memainkan peran apa pun, sejauh mana penampilan seseorang dapat dipercaya sebagai cerminan dirinya?

Pertanyaan itu berkembang melalui pertukaran posisi antara kawan dan lawan, pemenang dan pihak yang dikalahkan, orang suci dan penjahat. Puisi kemudian menyusun rangkaian pertentangan yang semakin tajam:

orang-orang suci main judi
penjahat bersolek menyerupai orang-orang suci
pemabuk berebut siapa paling berakal—paling waras
orang-orang waras kian mabuk kian tidak berakal

Rangkaian tersebut bekerja melalui pembalikan kategori. Orang suci melakukan tindakan yang diasosiasikan dengan keburukan, sementara penjahat mengenakan penampilan kesucian. Orang yang mengaku waras justru kehilangan kejernihan berpikir. Perhatian pembaca diarahkan pada jarak antara identitas yang dipertontonkan dan perilaku yang dilakukan.

Karena itu, Prolog Pementasan dapat dibaca sebagai kritik terhadap masyarakat yang ukuran moralnya mudah diperalat. Persoalannya bukan sekadar bahwa manusia dapat berpura-pura. Puisi mengarahkan perhatian kepada keadaan ketika kepalsuan telah mengacaukan kemampuan masyarakat membedakan perilaku dan pengakuan, keadilan dan kekerasan, kewarasan dan kegilaan.

Baris-baris tentang tukang begal yang mempertanyakan keadilan serta orang adil yang mulai membegal memperdalam pembalikan tersebut. Bahasa moral masih digunakan, tetapi hubungan antara bahasa dan tindakan telah rusak. Seseorang dapat menyebut dirinya adil sambil melakukan tindakan yang bertentangan dengan keadilan. Dalam keadaan semacam itu, kata-kata kehilangan jaminan moral yang biasanya dilekatkan kepadanya.

Panggung menjadi metafora yang menyatukan seluruh rangkaian. Ada pemain, kostum, skenario, dan penonton. Namun, penonton pun tidak sepenuhnya aman karena puisi memperingatkan bahwa mereka dapat terseret menjadi pemeran. Batas antara orang yang menyaksikan dan orang yang terlibat menjadi kabur.

Gagasan tersebut membuat kritik sosial dalam puisi ini memiliki konsekuensi bagi pembaca. Kita tidak ditempatkan di luar panggung sebagai pengamat yang sepenuhnya bebas dari persoalan. Kita juga perlu mempertanyakan cara mengenali kebenaran, menilai perilaku, dan mempercayai pernyataan yang disampaikan dengan penampilan meyakinkan.

Bagian akhir memperkuat ketegangan itu melalui perintah:

Tegakkanlah kepalsuan
wahai wayang-wayang!

Perintah tersebut bersifat ironis. Kata tegakkanlah biasanya berhubungan dengan sesuatu yang dianggap benar atau layak dipertahankan. Ketika yang harus ditegakkan justru kepalsuan, bahasa perintah berubah menjadi sindiran. Panggung sosial digambarkan sebagai ruang ketika kepalsuan tidak lagi disembunyikan dengan malu-malu, tetapi dijalankan sebagai bagian dari permainan.

Kritik semacam ini menuntut perhatian pada cara puisi membangun makna. Pengulangan pertentangan, pergantian peran, dan nada perintah membentuk gerak retoris yang terus menekan pembaca. Makna tidak berdiri pada satu kalimat saja. Ia tumbuh melalui akumulasi contoh yang memperlihatkan kerusakan ukuran moral, lalu mencapai puncaknya dalam seruan ironis kepada para wayang.

Di sini terlihat salah satu kemungkinan kekuatan Rois: pengalaman sosial diolah menjadi struktur bahasa yang memiliki arah. Ia tidak berhenti pada pernyataan bahwa kehidupan penuh kepalsuan. Ia membangun sebuah panggung tempat kepalsuan bekerja, memperlihatkan bagaimana peran berganti, dan menempatkan pembaca di hadapan ketidakpastian tentang siapa yang sedang memainkan siapa.

Kematian dan pemadatan pengalaman

Nada Prolog Pementasan yang panjang, penuh pembalikan, dan retoris berbeda dari Megatruh, yang menggunakan bahasa jauh lebih hemat.

Dan akhirnya kita
segurat nama di batu nisan.

Pernyataan tersebut mereduksi keberadaan manusia menjadi tulisan pada batu nisan. Kata segurat menghadirkan kesan bahwa nama yang dahulu melekat pada seseorang akhirnya tinggal sebagai jejak. Tubuh, suara, hubungan sosial, dan pengalaman hidup tidak dijelaskan satu per satu. Semuanya dipadatkan dalam citra nama yang terukir.

Puisi kemudian memperluas gambaran itu:

Berderet antara derit
kehidupan, menanti

tahun-tahun bagi peziarah
menyekar airmata
yang pecahkan

doa-doa.

Kata berderet dapat dibaca sebagai gambaran batu-batu nisan yang berdampingan. Namun, hubungan bunyi antara berderet dan derit juga menghubungkan kematian dengan perjalanan hidup yang penuh kesukaran. Bahasa puisi bergerak dari citra yang dapat dilihat menuju gema pengalaman yang lebih luas.

Peziarah hadir sebagai sosok yang kembali mengunjungi makam. Tindakan menyekar kemudian dihubungkan dengan air mata dan doa. Dengan demikian, kematian tidak hanya dibayangkan sebagai berakhirnya kehidupan seseorang, tetapi juga sebagai keadaan yang mengubah hubungan orang yang hidup dengan mereka yang telah meninggal.

Bagian berikutnya berbunyi:

Di atas kubur segala
terasa jauh.

Kata jauh membuka ruang tafsir yang luas. Ia dapat mengacu pada jarak antara yang hidup dan yang meninggal, tetapi juga dapat memberi kesan bahwa urusan yang dahulu terasa mendesak berubah kedudukannya ketika berhadapan dengan kematian. Puisi tidak menguraikan makna tersebut secara langsung. Ia membiarkan satu kata menampung berbagai kemungkinan yang masih terikat pada citra kubur.

Puisi ditutup dengan sapaan:

Kekasih,
tinggalkan lenguh.

Kehadiran kata Kekasih mengubah suasana. Setelah rangkaian citra tentang batu nisan, peziarah, air mata, dan doa, muncul hubungan personal yang intim. Sementara itu, lenguh membawa kesan suara berat yang keluar dari tubuh. Perintah untuk meninggalkannya dapat dibaca sebagai ajakan melepaskan beban atau keluh, tetapi puisi tidak memberi keterangan yang cukup untuk memastikan satu tafsir tunggal.

Yang menarik ialah cara Megatruh mengolah persoalan kematian melalui pemadatan. Berbeda dari Prolog Pementasan yang membangun kritik dengan akumulasi pertentangan, puisi ini menempatkan beban makna pada beberapa citraan utama. Nama di batu nisan, peziarah, air mata, doa, kubur, dan kekasih membentuk urutan yang bergerak dari gambaran kolektif menuju sapaan personal.

Perbedaan cara pengolahan ini penting dalam menilai perkembangan atau keluasan artistik seorang penyair. Dua puisi yang mengangkat persoalan besar tidak harus menggunakan strategi yang sama. Kritik sosial dapat membutuhkan rangkaian retoris yang bertumpuk, sedangkan renungan tentang kematian dapat memperoleh daya melalui penghematan. Keberhasilan bentuk perlu dinilai berdasarkan kebutuhan masing-masing puisi, bukan berdasarkan satu ukuran yang diterapkan secara seragam.

Rumah yang dicari penyair

Jika Prolog Pementasan memperlihatkan dunia sosial sebagai panggung yang penuh pergantian peran dan Megatruh menghadirkan batas kehidupan, Rumah Seorang Penyair mengembalikan perhatian kepada posisi penyair di antara bahasa, perjalanan, dan kebutuhan untuk memiliki tempat berpulang.

Di manakah rumah seorang penyair
dalam wangi imaji wangur rahim nurani
di panggung bermacam adegan
antara topeng-bopeng berupa peran
atau tersuruk tak ditemukan.

Pertanyaan tentang rumah membuka persoalan yang tidak selesai dengan menunjuk bangunan atau alamat. Rumah dicari di tengah imajinasi, nurani, panggung, dan peran. Penyair berada dalam dunia yang menyediakan banyak kemungkinan, tetapi keragaman kemungkinan itu tidak otomatis memberinya tempat yang menenteramkan.

Panggung dalam puisi ini berhubungan dengan panggung dalam Prolog Pementasan. Pada puisi sebelumnya, panggung menjadi ruang ketika identitas dan ukuran moral mengalami pembalikan. Dalam Rumah Seorang Penyair, panggung kembali hadir sebagai tempat yang dipenuhi peran, tetapi perhatian kini diarahkan kepada posisi penyair di dalamnya. Ia harus berhadapan dengan dunia yang menuntut penampilan dan pergantian peran, sementara dirinya mencari tempat yang memungkinkan ia tinggal tanpa kehilangan hubungan dengan suara batinnya.

Pertanyaan berikutnya menegaskan hubungan antara bahasa dan kegelisahan:

Adakah rumah seorang penyair
yang begitu mencintai belukar kata-kata
sementara kata-kata selalu menjelma nyeri
nyanyian-nyanyian yang menghela kegelisahan
dari kekalnya pengembaraan.

Penyair mencintai kata-kata, tetapi kata-kata justru menjelma nyeri. Pertentangan ini menyentuh salah satu paradoks penciptaan sastra. Bahasa memberi penyair kemampuan mengolah pengalaman, tetapi kedekatan dengan bahasa juga membuatnya terus berhadapan dengan hal-hal yang belum selesai dipahami. Kata-kata menjadi sarana pengungkapan sekaligus ruang tempat kegelisahan memperoleh bentuk baru.

Ungkapan belukar kata-kata menyiratkan kerimbunan dan kemungkinan tersesat. Penyair memasuki wilayah bahasa yang penuh pilihan, hubungan, dan arah. Ia harus menemukan jalan melalui kerimbunan itu agar pengalaman yang hendak disampaikan tidak kehilangan bentuk. Sementara itu, kata-kata yang menjelma nyeri memperlihatkan bahwa proses penciptaan tidak selalu berujung pada ketenteraman. Pengungkapan dapat membuka persoalan yang sebelumnya hanya dirasakan secara samar.

Pertanyaan tentang rumah kemudian bergerak melalui halte, terminal, stasiun, dan bandara. Tempat-tempat itu menghubungkan perjalanan, keberangkatan, dan perpindahan. Namun, perjalanan tersebut diikuti gambaran tubuh tanpa jiwa yang menuju kesia-siaan. Mobilitas tidak menjamin seseorang menemukan tempat yang dicari. Seseorang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa memperoleh kepastian tentang keberadaannya sendiri.

Pada bagian terakhir, rumah kembali dicari melalui perubahan lanskap dan waktu: tanah penghujan, tanah kemarau, pagi di galengan, malam dengan kerumunan laron, dan lampu-lampu pesta. Citraan itu memperluas kemungkinan rumah menjadi pengalaman yang berkaitan dengan tanah, musim, kehidupan sehari-hari, dan suasana yang akrab. Namun, puisi tetap mempertahankan bentuk pertanyaan. Rumah belum ditetapkan sebagai jawaban yang final.

Karena itu, rumah dalam puisi ini dapat dibaca sebagai persoalan keberadaan penyair. Di manakah ia dapat menempatkan diri ketika dunia dipenuhi peran, bahasa membawa kegelisahan, dan perjalanan tidak selalu mengantar seseorang kepada tujuan? Pertanyaan tersebut berhubungan dengan pencarian identitas, tetapi identitas itu tidak disajikan sebagai sesuatu yang sudah selesai. Ia terus dinegosiasikan melalui pengalaman, bahasa, dan hubungan dengan dunia.

Puisi ini sekaligus memberi konteks bagi pembacaan terhadap Rois sebagai penyair yang bergerak di antara kegelisahan personal dan pengamatan sosial. Panggung, perjalanan, kata-kata, serta rumah membentuk jaringan citraan yang menghubungkan persoalan-persoalan tersebut. Pencarian rumah menjadi bagian dari pencarian tempat bagi diri di tengah dunia yang terus berubah.

Barat sebagai ruang kebudayaan

Penyebutan Rois sebagai penyajak dari Barat mengarahkan perhatian kepada latar geografis dan kebudayaan yang menyertai kepenyairannya. Banten memiliki sejarah Islam, tradisi lokal, dan pengalaman sosial yang beragam. Latar tersebut dapat menjadi salah satu konteks untuk membaca karya Rois, tetapi hubungan antara lingkungan budaya dan puisi perlu dibangun melalui unsur yang benar-benar hadir dalam teks.

Dalam Prolog Pementasan, misalnya, terdapat penyebutan Fir’aun, Isa, Adam, Setan, dan Tuhan. Rujukan tersebut membawa puisi ke wilayah simbol dan ingatan budaya yang berkaitan dengan agama, mitologi, serta pemahaman moral. Namun, penggunaannya tidak berhenti sebagai penanda identitas religius. Nama-nama itu ditempatkan dalam panggung yang mempertanyakan peran, kebenaran, dan kepalsuan. Konteks budaya menjadi bahan bagi kritik, bukan sekadar latar dekoratif.

Dalam Megatruh, batu nisan, peziarah, menyekar, dan doa menghadirkan praktik yang dikenal dalam kehidupan sosial masyarakat. Praktik tersebut memberi bentuk konkret kepada renungan tentang kematian. Pengalaman yang mungkin bersifat individual ditempatkan dalam kebiasaan kolektif untuk mengunjungi makam, mengenang orang yang telah meninggal, dan mendoakan mereka.

Kedua puisi tersebut memperlihatkan bahwa unsur budaya dapat bekerja pada tingkat yang berbeda. Rujukan religius dalam Prolog Pementasan digunakan untuk menguji hubungan antara simbol dan perilaku, sedangkan praktik ziarah dalam Megatruh menghubungkan kematian dengan ingatan sosial. Perbedaan fungsi ini memperlihatkan mengapa unsur lokal dan budaya perlu dibaca melalui cara penggunaannya, bukan hanya dicatat keberadaannya.

Dengan dasar itu, kekhasan Rois sebagai penyair dari Banten dapat ditelusuri melalui pertemuan antara bahan budaya dan cara pengolahan artistik. Latar geografis menyediakan kemungkinan pengalaman, tetapi puisi menentukan bagaimana pengalaman tersebut menjadi bahasa. Identitas lokal memperoleh arti sastra ketika hadir sebagai hubungan yang hidup antara citraan, ingatan kolektif, pertanyaan personal, dan bentuk pengucapan.

Kebudayaan dengan demikian bukan daftar ciri yang ditempelkan pada penyair berdasarkan tempat asalnya. Ia merupakan salah satu sumber yang dapat diolah, dipertanyakan, bahkan ditafsirkan ulang. Penyair berhubungan dengan warisan budaya melalui pilihan bahasa dan gagasan, sementara karya-karyanya dapat membuka kembali makna unsur budaya tersebut bagi pembaca.

Kelahiran penyajak dan persoalan ukuran

Judul 50 Sen Batasan Puisi Seperak mempertemukan dua hal yang menarik: banyaknya definisi puisi dan permainan bunyi yang mengingatkan pada nama 50 Cent. Hubungan itu dapat dibaca sebagai permainan judul yang mengundang perhatian, tetapi kekuatannya sebagai gagasan perlu bertumpu pada pembahasan tentang batas dan nilai puisi.

Lima puluh definisi tidak dengan sendirinya menghasilkan satu rumusan yang mampu mencakup seluruh puisi. Setiap definisi memilih sudut pandang tertentu, sedangkan karya konkret dapat menghadirkan kemungkinan yang luput dari rumusan tersebut. Definisi berguna sebagai alat bantu berpikir, tetapi puisi tetap perlu dibaca melalui unsur dan hubungan yang membentuknya.

Hal yang sama berlaku ketika kita hendak menandai kelahiran seorang penyajak. Kelahiran itu tidak cukup dipahami sebagai kemunculan seseorang yang mulai menulis puisi. Ia berkaitan dengan terbentuknya suara artistik yang dapat dikenali melalui cara mengolah bahasa, membangun citraan, menyusun konflik, dan menghubungkan pengalaman pribadi dengan persoalan yang lebih luas.

Pada Rois, sejumlah puisi yang dibahas di sini memperlihatkan perbedaan strategi pengucapan. Melankolia memusatkan perhatian pada pertentangan batin dalam hubungan personal. Prolog Pementasan membangun kritik sosial melalui pergantian peran dan pembalikan ukuran moral. Megatruh memadatkan renungan tentang kematian melalui citraan yang singkat. Rumah Seorang Penyair mengembangkan pertanyaan tentang tempat, bahasa, perjalanan, dan keberadaan diri.

Keberagaman tersebut belum cukup untuk menyimpulkan seluruh perkembangan kepenyairan Rois. Namun, karya-karya itu memperlihatkan medan persoalan yang dapat ditelusuri: hubungan diri dengan orang lain, individu dengan masyarakat, kehidupan dengan kematian, serta bahasa dengan kegelisahan yang hendak diungkapkan.

Puisi Yudi Damanhuri menambahkan lapisan lain. Melalui Sebungkus Malam dan Kepada Muhamad Rois Rinaldi, kita melihat bahwa Rois telah hadir sebagai sosok yang dibayangkan dan ditafsirkan oleh penyair lain. Sementara itu, puisi-puisi Rois sendiri menghadirkan subjek yang terus mempertanyakan cinta, moralitas, kematian, dan tempatnya di dunia. Kedua arah pandang tersebut tidak sepenuhnya sama, tetapi pertemuannya memberi gambaran tentang proses pembentukan identitas sastra.

Kelahiran penyajak, dengan demikian, lebih tepat dipahami sebagai proses yang berlangsung melalui karya dan pembacaan. Penyair mengolah pengalaman menjadi bahasa; pembaca menelusuri hubungan yang dibangun bahasa itu; lingkungan sastra memberi tanggapan; dan tanggapan tersebut membuka kemungkinan pembacaan baru. Identitas kepenyairan berkembang dalam perjumpaan antara penciptaan dan penerimaan.

Rois dari Barat hadir melalui perjumpaan itu. Kegelisahan personalnya memperoleh bentuk dalam puisi tentang cinta dan pencarian rumah. Pengamatan sosialnya berkembang menjadi panggung yang mempertanyakan kepalsuan. Renungan tentang kematian mengambil bentuk yang lebih hemat dalam Megatruh. Unsur budaya dan spiritual memasuki puisi melalui rujukan serta praktik yang memiliki kehidupan di luar teks, kemudian memperoleh fungsi baru ketika disusun dalam bahasa puisi.

Yang perlu ditandai bukanlah bahwa seorang penyajak telah selesai dibentuk, melainkan bahwa karya-karyanya telah menyediakan bahan untuk mengenali arah penciptaannya. Ia masih dapat berubah, memperluas wilayah pengucapan, menemukan bentuk yang lebih tepat, atau mempertanyakan kembali cara-cara yang pernah digunakannya. Justru kemungkinan perubahan itu membuat perjalanan kepenyairan layak diikuti.

Jika definisi Tia Azulay menempatkan puisi sebagai usaha mengubah getaran batin menjadi musik yang dapat berbunyi dalam jiwa pembaca, karya-karya Rois memperlihatkan bahwa musik tersebut dapat mengambil banyak bentuk. Ia dapat hadir sebagai pusaran kecemasan, pekik ombak, panggung yang penuh kepalsuan, kesunyian di atas kubur, atau pertanyaan tentang rumah yang tak kunjung menemukan jawaban.

Di antara bentuk-bentuk itu, kita melihat seorang penyair yang berusaha menjadikan kegelisahan sebagai bahasa dan menjadikan bahasa sebagai ruang untuk memahami manusia. Kelahiran penyajak dari Barat tidak perlu ditetapkan melalui pernyataan besar tentang masa depan sastra Nusantara. Ia lebih meyakinkan ketika ditelusuri melalui kerja konkret dalam puisi: bagaimana kata dipilih, citraan dihubungkan, konflik dikembangkan, dan pengalaman diberi bentuk yang memungkinkan orang lain ikut memikirkannya.

 

Bogor, Mei 2014

*) Pengajar Intercultural Communication di FKIP, Universitas Ibn Khaldun Bogor.