Kegiatan

Blog Aktivitas

Gabungan Komunitas Sastra ASEAN

Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (Gaksa) merupakan komunitas sastra yang dibentuk pada tahun 2016. Didirikan oleh komunitas-komunitas sastra kenamaan dari berbagai negara, yakni Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia, E-Sastera (Malaysia), Lentera Sastra (Indonesia), Pena Patani (Thailand), Putera Seni (Brunei Darussalam), dan Bebas Melata (Singapura). Para pengurus pada pembentukan ini terdiri dari Prof. Dr. Irwan Abu Bakar (Presiden Gaksa ASEAN), Muhammad Rois Rinaldi (Wakil Presiden Gaksa ASEAN) Ilya Kablam – Puzi Hadi (Koordinator Nasional Malaysia) Muhammad Iqbal Alfahri – Ega Prayoga (Koordinator Nasional Indonesia), Mahroso Doloh – Dr. Phaosan Jahwae (Koordinator Nasional Thailand), Dr. Zefri Ariff (Koordinator Nasional Brunei), dan Rohani Din (Koordinator Nasional Singapura).

Meski secara resmi Gaksa dibentuk pada tahun 2016, pergerakannya telah dimulai sejak belasan tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 2002 bertepatan dengan pembentukan Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia, kemudian disusul oleh Lentera Sastra Internasional pada tahun 2010. Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia dan Lentera Sastra Internasional merupakan dua komunitas utama yang menginisiasi pembentukan Gaksa, terutama oleh Prof. Dr. Ir. Wan Abu Bakar Wan Abas (Irwan Abu Bakar) dan Rois Rinaldi.

Kiprah Gaksa memberi nuansa tersendiri dalam hubungan sastra internasional. Beberapa program yang diajukan Gaksa ke berbagai pihak di Asia Tenggara telah mendorong lahirnya berbagai momen penting dalam dunia sastra internasional, di antaranya mendorong para pelajar di London untuk mewacanakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN dalam seminar internasional yang diadakan di London dan menerbitkan buku dengan judul yang sama dengan mengundang para penulis di Asia Tenggara. Gaksa juga turut memberi jalan untuk lalu-lintas buku antarbangsa melalui program penjualan buku internasional. Buku yang ditulis oleh anggota komunitas Gaksa dari Indonesia dipasarkan di Malaysia, Thailand, Singapura, dan Brunei. Begitu juga buku-buku dari para penulis anggota komunitas Gaksa dari negara lain dipasarkan di Indonesia.

Melalui program penerbitan buku, setidaknya telah ada 10 antologi puisi dan 3 antologi cerpen bersama yang memuat karya penulis dari negara ASEAN, di antaranya 1.000 Detik Perasaan (2016), Sekoia (2017), dan Aku Pejuang (2018). Buku yang diterbitkan dipasarkan di lima negara aggota komunitas. Program penerbitan ini dibiayai oleh anggota komunitas dengan tujuan pemasyarakatan karya sastra ASEAN di kalangan pembaca di wilayah Asia Tenggara. Gaksa (di) Indonesia dalam hal ini bertugas membuat peta program dan mekanisme pelaksanaan sejak proses pengumpulan naskah hingga penerbitannya.

Pemasyarakatan karya sastra para penulis di Asia Tenggara kepada pembaca Asia Tenggara tersebut dilanjutkan dengan pemilihan generasi penerus untuk meneruskan pergerakan sastra internasional di dalam urusan internal setiap komunitas anggota. Di Malaysia tokoh-tokoh muda seperti Aly Indra dan Gabriel Kim, dan menjadi langganan penerima anugerah sastra di negeranya. Di Singapura penulis Noor Aisya bte Buang berturut-turut memenangi Anugerah Sastra Singapura hampir setiap tahunnya dan di Indonesia pengurus Gaksa meraih berbagai anugerah sastra internasional, di antaranya Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera, 2014), Anuerah Utama Penyair Asia Tenggara (HesCom, 2015), dan Anugerah Utama Penyair Terbaik Asia Tenggara (HesCom 2016).

Capaian Gaksa sebagai komunitas pada level internasional lebih pada arah kiprahnya sebagai komunitas yang mampu memberi warna pada kesusastraan Asia Tenggara dengan mengadakan berbagai kegiatan penting, di antaranya Seminar Internasional Indonesia – Malaysia (Universitas Gadjah Mada, 2014), Seminar Sastra Siber Indonesia – Malaysia (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, 2015), Seminar Internasional Penyair Muda ASEAN (Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 2015), Seminar Internasional Penyair Muda ASEAN (Universitas Muhammadiyah Tangerang, 2015), Seminar Sastra Siber Indonesia-Malaysia (Cilegon, 2016), Anugerah e-Sastera ASEAN (Cilegon, 2016), Konser Seniman Asia Tenggara (Cilegon, 2017), dan Seminar Sastra Siber ASEAN (Cilegon, 2017).

Melalui program tersebut Gaksa membuka jalan bagi para penulis baru untuk dapat mempeoleh capaian internasional serta memudahkan mereka untuk dapat berkiprah. Gaksa juga mengajukan beberapa hal penting bagi masyarakat Asia Tenggara, di antaranya Kalender Melayu dengan mengembalikan perhitungan tanggal pada kalender Melayu masa lalu, pengelolaan bersama untuk keperluan sastra internasional, dan sebagaimana telah disampaikan di muka, mengajukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar tingkat ASEAN.

Aktivitas Kami