Oleh: Rizky Tri Wardana, Ketua Bidang Penerbitan Gaksa
Menjelang Idulfitri, antusiasme menyiapkan perayaan adalah wujud sukacita. Namun di baliknya, terdapat esensi spiritual yang semestinya tetap kita jaga agar tidak kehilangan makna. Di tengah suasana ini, buku berjudul Mendaras Sampai Batas karya Dr. H. Ismatullah Syihabudin, M.Pd, yang diterbitkan oleh Gaksa Enterprise pada tahun 2021, menjadi cermin tenang untuk menengok kembali perjalanan batin kita. Buku ini menarik untuk dibaca sebagai kompilasi pemaknaan yang tumbuh dari persilangan pengalaman spiritual, sosial, dan intelektual seorang pendidik. Karya ini menyuguhkan catatan harian Ramadan 1441 Hijriah, sebuah fragmen waktu ketika masyarakat global tengah menghadapi pandemi Covid-19.
Melalui narasi singkat harian, buku ini mengajak pembaca menelaah berbagai peristiwa dunia dari sudut pandang agama, pendidikan, dan kehidupan sosial. Alurnya bergerak lincah; berangkat dari keseharian menuju perenungan yang lebih luas tentang manusia, masyarakat, serta masa depan. Setiap bagian ditulis dengan nada kontemplatif yang secara apik mempertautkan peristiwa aktual dengan nilai-nilai spiritualitas.
Mendaras Sampai Batas menelusuri bagaimana kejadian sederhana dapat menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan kehidupan yang lebih dalam. Sifatnya terasa dekat dan intim, sembari memberi ruang bagi pembaca untuk memikirkan kembali hubungan antara iman, akal, dan realitas sosial. Sebagai penerbit yang rutin mengurasi naskah bertema pendidikan, saya melihat buku ini berhasil menghadirkan harmoni antara kekhusyukan batin dan ketajaman analisis sosial. Kesan pertama saya saat membedah naskah ini adalah rasa apresiasi terhadap kejelian penulis dalam memeras esensi dari peristiwa kecil menjadi hikmah bermakna yang relevan bagi pendidik maupun siapa pun yang berusaha membaca arah zaman.
Ramadan dalam Kontemplasi
Tulisan pembuka, “Ramadan di Masa Covid-19”, menggambarkan bagaimana pandemi mengubah drastis kehidupan sehari-hari. Ketika ruang publik sepi dan pembatasan jarak fisik diberlakukan, penulis melakukan pembacaan ulang atas makna kepedulian sosial, kedisiplinan, serta tanggung jawab kolektif terhadap sesama. Krisis ini tidak hanya dilihat sebagai kesulitan, tetapi juga peluang untuk memperbaiki cara pandang terhadap kehidupan, memperkuat solidaritas, dan membangun kesadaran bersama.
Secara pribadi, saya merasa tersentuh oleh cara Pak Ismat membingkai pandemi sebagai katalisator kepekaan batin. Penelaahan ini menggugah kesadaran saya untuk mempertanyakan sejauh mana kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar di tengah jarak fisik yang tercipta. Kedalaman tafsir personal tersebut didukung oleh struktur buku yang disusun kronologis berdasarkan hari-hari Ramadan, sehingga memberi kesan sebuah perjalanan intelektual yang utuh.
Sepanjang perjalanan tersebut, pembaca diajak mengikuti alur pemikiran yang beragam, dari konsep manusia paripurna hingga persoalan praktis seperti potensi wilayah pesisir. Karena setiap tulisan lahir dari peristiwa aktual atau ingatan tertentu, gagasan-gagasan di dalamnya berkembang secara organik dari hari ke hari.
Selain memuat pemaknaan spiritual yang bersifat universal, catatan ini juga memperkenalkan pembaca pada lanskap sosial masyarakat Cilegon melalui pendekatan lokal yang unik, sebuah warna yang jarang ditemui dalam buku bertema keagamaan konvensional. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa pemaknaan intelektual penulis selalu berpijak kuat pada realitas sosial di sekitarnya.
Keterikatan antara nilai transendental dan realitas sosial tersebut menemukan titik temu yang paling kuat pada dinamika dunia pendidikan. Penulis tidak membatasi pembahasan pada ritual ibadah semata, melainkan mengaitkannya dengan peran strategis guru sebagai figur pembentuk karakter generasi muda. Dalam pandangan Ismatullah, pendidikan adalah jalan membangun moralitas: agama memberi dasar nilai, sementara pendidikan menumbuhkan kesadaran untuk mewujudkannya dalam kehidupan. Pemikiran mengenai integrasi nilai ini kemudian mengerucut pada pembahasan yang lebih spesifik mengenai etika kerja dan profesionalisme.
Hal ini terlihat jelas ketika mencermati catatan Ramadan ke-10 tentang etika profesi. Di sana, saya menangkap keteguhan prinsip penulis dalam menyelaraskan teladan Rasulullah dengan prinsip manajemen modern seperti 5R+T. Penekanan pada gagasan the right man in the right place menunjukkan bahwa beliau bukan sekadar perenung, melainkan praktisi yang memahami integritas sebagai jantung kualitas sebuah institusi. Gagasan-gagasan mengenai profesionalisme ini kemudian dikembangkan lebih jauh dalam sejumlah catatan mengenai hubungan antara etika, kepemimpinan, dan lingkungan.
Kehidupan, Etika, dan Lingkungan
Berangkat dari catatan Ramadan ke-10, “Belajar dari Sikap Mental Rasulullah”, penulis menggunakan momentum Hari Pendidikan Nasional untuk menelaah karakter insan pendidikan melalui lima fondasi moral: ikhlas, jujur, disiplin, tanggung jawab, dan loyalitas. Nilai-nilai ini tidak dibiarkan mengambang sebagai konsep abstrak, melainkan diperkuat dengan konsep operasional 5R+T (Resik, Ringkas, Rapi, Rawat, Rajin, Teliti) demi membangun budaya kerja profesional yang selaras dengan sifat Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah.
Refleksi kepemimpinan ini kemudian diperluas pada catatan ke-11, “The Right Man”, yang menekankan pentingnya penempatan personel yang tepat, terutama saat sistem pendidikan dipaksa beradaptasi dengan pembelajaran daring di masa pandemi. Ismatullah menegaskan bahwa dalam situasi krisis, pemimpin yang tepat adalah kunci bagi lembaga untuk tetap bergerak menuju perbaikan berkelanjutan. Namun, tantangan pendidikan tidak hanya berhenti pada tata kelola internal, melainkan juga pada keselarasan dengan kebutuhan eksternal seperti industri.
Pada catatan ke-12, penulis menelusuri sejarah Cilegon dalam “Alam Cilegon, Teknologi, dan Tantangan Masa Depan”. Ia menyoroti tantangan besar di mana pertumbuhan industri sering kali melampaui kesiapan lembaga pendidikan kejuruan. Kesenjangan ini menjadi peringatan agar generasi baru tidak tertinggal oleh laju teknologi. Kesadaran akan ruang hidup ini kemudian membawa narasi pada hubungan manusia dengan alam, sebagaimana tertuang dalam catatan ke-13, “Berguru pada Banjir Bandang”, yang memandang bencana sebagai pengingat untuk menghidupkan kembali solidaritas dan gotong royong.
Puncak dari pemikiran mengenai ruang hidup ini muncul pada Ramadan ke-14 melalui metafora “Empat Unsur dan Makna Kota”. Air, api, udara, dan tanah digunakan untuk memahami keseimbangan pembangunan Cilegon. Metafora ini tidak hanya memikat secara imajinasi, tetapi juga menggugah kesadaran kritis: mampukah pembangunan peradaban berjalan tanpa merusak napas ekologis yang menopangnya? Pertanyaan-pertanyaan filosofis ini menandai pergeseran narasi buku dari pengamatan sosial menuju kedalaman kontemplasi yang lebih personal.
Antara Dedikasi dan Kontemplasi
Perjalanan batin dalam Mendaras Sampai Batas memperoleh kedalaman karena bertumpu pada pengalaman nyata sang penulis sebagai praktisi. Memasuki paruh kedua buku, narasi bergerak dari ritual lokal menuju pemahaman eksistensial. Pada catatan ke-16, melalui tradisi “Kunutan”, penulis memaknai ibadah sebagai keseimbangan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dan manusia dengan sesama.
Perspektif kritis ini semakin terasa tajam pada catatan ke-17 hingga ke-23. Pengalaman panjang H. Ismatullah, dari ruang kelas di Bandung hingga kursi kepemimpinan birokrasi di Cilegon, memberi bobot pada penelaahannya mengenai kebijakan Merdeka Belajar dan kompetensi guru. Baginya, integritas profesi adalah pilar utama pembentuk masa depan pendidikan. Wawasan ini diperkaya oleh latar belakang akademis serta pengalaman globalnya di berbagai negara, yang memungkinkannya mempertautkan nilai Islam klasik dengan tantangan modernisasi serta dinamika politik pasca-Reformasi.
Menjelang akhir Ramadan, orientasi batiniah buku ini semakin menguat melalui perenungan tentang zakat fitrah hingga momen Idulfitri sebagai titik kembali. Keterlibatan aktif penulis dalam berbagai organisasi kemasyarakatan membuat setiap pemikiran dalam buku ini terasa hidup dan aplikatif, jauh dari kesan teori kosong. Sosok H. Ismatullah memperlihatkan bahwa dedikasi dalam birokrasi dapat berjalan seiring dengan kedalaman spiritual. Berbagai penghargaan yang ia terima, seperti Satyalancana Karya XX, menjadi penanda atas komitmen panjang untuk terus mendaras nilai-nilai kehidupan.
Bagi saya pribadi, perjalanan dalam buku ini mencerminkan sebuah integritas yang utuh. Saya teringat ketulusan beliau saat membahas nasib guru di pelosok. Ada kejujuran yang membagikan proses pendewasaan berpikir dari pergulatan hidup yang nyata. Pada akhirnya, Mendaras Sampai Batas hadir sebagai kristalisasi pemikiran seorang pendidik yang membaca zaman dengan kesadaran utuh. Iman, nalar, dan realitas sosial bertemu dalam setiap catatan, mengalir dari pengalaman pribadi seorang putra daerah menuju kesadaran kolektif tentang masa depan bangsa.











