Oleh: Rizky Tri Wardana, Ketua Bidang Penerbitan Gaksa
Buku berjudul Sekolah di Persimpangan Zaman: Jejak Rekam Kepemimpinan Dadi Mahmudin, yang diterbitkan oleh Gaksa Transkultura pada tahun 2024, menarik untuk ditelaah sebagai catatan pengalaman kepemimpinan di lingkungan pendidikan. Buku ini menghadirkan perspektif jarak dekat dari para guru, staf, dan sesama kepala sekolah mengenai perjalanan kepemimpinan Dadi Mahmudin, M.Pd., dalam mengelola sekolah.
Narasi buku disusun dari ingatan, pengalaman, serta kesaksian orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengannya. Melalui rangkaian pengalaman yang tersaji, pembaca memperoleh gambaran tentang bagaimana gagasan, kebijakan, dan praktik kepemimpinan dijalankan dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Gaya dan pendekatan para penulis membuat buku terasa dekat dengan pengalaman langsung para pelaku pendidikan. Selain itu, juga dapat memperlihatkan bagaimana visi kepemimpinan berkembang melalui relasi kerja, kebiasaan organisasi, dan dinamika kehidupan sekolah yang secara bertahap menstimulus semangat untuk berjalan bersama dalam koridor tujuan pendidikan.
Melalui perspektif para guru, pembaca melihat bagaimana visi seorang pemimpin berkembang menjadi visi bersama yang menggerakkan warga sekolah. Perkembangan yang berjalan bertahap dan disesuaikan dengan aspek-aspek kemanusiaan kemudian mengubah wajah sebuah sekolah pinggiran menjadi ruang pendidikan yang melahirkan berbagai inovasi. Dari berbagai judul bab dalam buku Sekolah di Persimpangan Zaman: Jejak Rekam Kepemimpinan Dadi Mahmudin dapat ditemukan fakta bahwa keberanian mendefinisikan ulang peran pendidik menjadi salah satu kunci perubahan.
Cara Dadi Mahmudin menempatkan setiap individu secara tepat dan memberikan peran yang memacu perkembangan masing-masing memperlihatkan pendekatan kepemimpinan yang terarah. Kepemimpinan Dadi Mahmudin memperlihatkan arah yang jelas dalam menempatkan setiap individu sesuai potensinya. Pendekatan yang ia aplikasikan tidak datang dari ruang kosong, melainkan dilatarbelakangi oleh pendidikan yang ia tempuh. Sebagai alumni IKIP Bandung dan UPI Bandung, ia memahami pendidikan, proses mendidik, serta makna menjadi manusia berpendidikan.
Pemahaman mengenai pendidikan yang dimaksud di atas kemudian tercermin dalam cara ia menjalankan kepemimpinan di lingkungan sekolah. Latar belakang akademik yang ditempuhnya membentuk cara pandang terhadap sekolah sebagai ruang pembelajaran yang terus bergerak. Ia jadikan sekolah sebagai tempat setiap individu memiliki posisi dan peran dalam membangun ekosistem pendidikan. Dari pemahaman itu lahir gaya kepemimpinan yang berangkat dari kesadaran tentang proses mendidik sekaligus kemampuan membaca potensi orang-orang di sekitarnya. Ia mengetahui arah yang hendak dituju.
Dalam praktik sehari-hari, gagasan tentang pendidikan tidak berhenti sebagai wacana. Ia diolah menjadi langkah-langkah yang mendorong keterlibatan guru, staf, dan siswa dalam kehidupan sekolah. Dari sinilah kepemimpinan bergerak. Perlahan namun pasti, visi yang semula berada pada ranah gagasan berkembang menjadi gerak kolektif yang hidup di lingkungan sekolah. Dalam konteks inilah sosok Dadi Mahmudin tampil sebagai motor penggerak yang menghubungkan pemahaman pendidikan dengan praktik keseharian.
Hal-hal tersebut dapat dilihat dari gaya kepemimpinan Dadi Mahmudin yang ceplas-ceplos, tegas, dan hangat yang kemudian menjadi motor penggerak lahirnya berbagai program pembiasaan di sekolah. Gaya kepemimpinan Dadi Mahmudin diterjemahkan ke dalam berbagai program konkret seperti SAPINA, Seribu Sabar, Pembatiq, hingga PACAR CINA yang dirancang untuk membangun budaya sekolah yang aktif dan kolaboratif. Program-program yang diciptakan menghadirkan suasana belajar yang mendorong keterlibatan seluruh warga sekolah sehingga sekolah berkembang sebagai lingkungan pendidikan yang hidup, tempat kebiasaan baik, kedisiplinan, serta kreativitas tumbuh bersama. Ia berperan sebagai mentor, sahabat, dan figur orang tua yang memberi perhatian pada perkembangan kompetensi serta kesehatan mental civitas akademika. Hubungan yang terbangun di lingkungan sekolah berkembang melalui dialog, kepercayaan, dan saling dukung antarsesama warga sekolah.
Melalui rangkaian cerita yang disusun, gambaran kepemimpinan pendidikan tampaknya bertumpu pada hubungan manusia yang hangat dan saling menguatkan.
Membaca buku ini, para pendidik dan kepala sekolah dapat memperoleh berbagai pelajaran mengenai praktik kepemimpinan pendidikan di lingkungan sekolah. Pengalaman-pengalaman yang disampaikan para penulis memperlihatkan bahwa perubahan dapat berawal dari kebiasaan yang ditanamkan secara konsisten dalam kehidupan sekolah. Dari kebiasaan kemudian tumbuh budaya kerja yang saling mendukung. Semangat belajar berkembang di antara warga sekolah. Dari situ lahir keberanian untuk menghadirkan berbagai gagasan dan inovasi pendidikan.
Dalam konteks itu, buku Sekolah di Persimpangan Zaman: Jejak Rekam Kepemimpinan Dadi Mahmudin dapat dipandang sebagai catatan reflektif mengenai perjalanan kepemimpinan pendidikan yang lahir dari pengalaman keseharian di sekolah. Kisah-kisah yang dihimpun di dalamnya menghadirkan potret tentang bagaimana seorang pemimpin membangun lingkungan belajar melalui kepercayaan, keteladanan, dan kedekatan dengan warga sekolah. Melalui rangkaian pengalaman, pembaca diajak melihat bahwa sekolah merupakan ruang perjumpaan manusia. Di dalam ruang itu setiap orang terus bertumbuh bersama dalam proses pendidikan.
Episentrum Pesisir
Letak geografis sebuah sekolah sering memengaruhi cara masyarakat memandang peluang dan tantangan yang dihadapinya. Sekolah yang berada jauh dari pusat kota kerap dikaitkan dengan keterbatasan akses terhadap fasilitas pendidikan, jaringan kerja sama, serta arus informasi yang berkembang lebih cepat di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut dapat membentuk anggapan bahwa lembaga pendidikan di daerah pinggiran memiliki ruang gerak yang lebih sempit dalam mengembangkan mutu pendidikan. Dalam situasi seperti ini, tantangan yang muncul berkaitan dengan faktor jarak, infrastruktur, serta persepsi masyarakat terhadap potensi sekolah. Oleh karena itu, kepemimpinan yang mampu membaca kondisi geografis secara konstruktif menjadi penting, agar keterbatasan ruang dan jarak dapat diolah menjadi dasar untuk merumuskan langkah-langkah pengembangan yang lebih kreatif dan kontekstual.
Seorang pemimpin yang visioner mampu mengubah batasan geografis yang semula dianggap sebagai hambatan menjadi ruang peluang bagi perkembangan sebuah lembaga pendidikan. Dalam naskah “Kepala Sekolah di Ujung Kabupaten Serang” digambarkan bagaimana SMKN 1 Cinangka, yang terletak di wilayah pesisir Kabupaten Serang, berkembang secara bertahap meskipun berjarak cukup jauh dari pusat kota. Kehadiran Dadi Mahmudin membawa semangat optimisme yang mendorong para guru dan staf untuk melihat lingkungan sekolah dengan cara pandang yang lebih percaya diri. Dorongan yang terukur perlahan menumbuhkan keyakinan bersama bahwa sekolah di wilayah pesisir pun memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Semangat kolektif inilah yang kemudian menjadi dasar perubahan cara pandang masyarakat terhadap sekolah yang berada di Desa Karang Suraga tersebut.
Perubahan juga terlihat dalam pendekatan pembelajaran yang dikembangkan di lingkungan sekolah. Dadi Mahmudin mendorong penerapan Project Based Learning (PjBL) yang memberi ruang bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung dalam menyelesaikan persoalan. Pendekatan ini menghadirkan suasana belajar yang lebih aktif dan kontekstual bagi para siswa. Tantangan geografis yang dihadapi sekolah perlahan dipandang sebagai bagian dari konteks belajar yang dapat dimanfaatkan secara kreatif. Melalui komunikasi yang terbuka dan upaya membangun kerja sama yang solid di antara guru serta staf, sekolah yang berada di wilayah pinggiran berkembang menjadi lembaga pendidikan yang semakin dikenal di tingkat kabupaten.
Perkembangan SMKN 1 Cinangka berlangsung melalui kepemimpinan yang menumbuhkan semangat bersama di lingkungan sekolah. Ruang bagi berbagai gagasan baru pun terbuka. Berbagai langkah inovatif dijalankan secara konsisten. Salah satunya ialah keberanian mengadopsi Kurikulum Merdeka pada tahap awal penerapannya. Upaya yang diikhtiarkan memberi dampak positif terhadap perkembangan sekolah dan memperluas kepercayaan berbagai pihak. Proses ini kemudian bermuara pada pengakuan yang lebih luas. SMKN 1 Cinangka ditetapkan sebagai SMK Pusat Keunggulan di bidang Hospitality. Perjalanan yang ditunjukkan petanya oleh para penulis memperlihatkan bahwa sekolah di wilayah pesisir pun dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran yang memberi inspirasi bagi lingkungan pendidikan di sekitarnya.
Akar dan Batas
Akar dan batas membentuk arah kepemimpinan seseorang. Akar merujuk pada pengalaman hidup, nilai keluarga, serta lingkungan awal yang menanamkan cara pandang terhadap tanggung jawab dan relasi dengan orang lain. Dari sana tumbuh sikap, kebiasaan, dan cara mengambil keputusan yang kemudian memengaruhi perjalanan kepemimpinan. Batas hadir dalam bentuk situasi, tuntutan, serta berbagai kondisi yang menguji nilai-nilai dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pertemuan antara akar pengalaman dan batas situasi membentuk karakter seorang pemimpin. Melalui proses itulah sikap kepemimpinan berkembang dan menemukan bentuknya.
Kepemimpinan yang kuat berakar pada pengalaman hidup yang membentuk cara seseorang memandang tanggung jawab dan hubungan dengan orang lain. Dalam refleksi berjudul “Batas: Dadi Mahmudin”, Sri Utami Maelani menelusuri latar keluarga yang membentuk karakter Dadi Mahmudin sejak usia muda. Sebagai anak lelaki tertua dari sembilan bersaudara, ia tumbuh dengan tanggung jawab untuk membantu orang tua serta menjaga dan membimbing adik-adiknya. Posisi tersebut perlahan membentuk sikap pengayom yang kemudian terbawa dalam perjalanan profesionalnya. Sebagai putra pertama dari pasangan Bapak Harun dan Ibu Masnah, pengalaman mengemban tanggung jawab keluarga menjadi dasar yang memperkuat sikapnya dalam menghadapi berbagai tantangan di lingkungan kerja.
Pengalaman keluarga bagaimana pun turut membentuk cara Dadi Mahmudin memandang kepemimpinan sebagai tanggung jawab yang dijalankan dengan keseimbangan antara ketegasan dan kepedulian. Latar belakang sebagai anak sulung menumbuhkan kebiasaan untuk menjadi penopang bagi orang lain, sebuah sikap yang kemudian tercermin dalam cara ia mengelola lingkungan sekolah. Kehidupan keluarganya bersama Siti Hodijah, yang dinikahinya sejak tahun 1993 dan dikaruniai lima orang anak, menjadi bagian penting dari keseimbangan kehidupan pribadinya. Kehangatan keluarga memberi ruang bagi terbentuknya ketenangan dalam menjalankan tanggung jawab sebagai kepala sekolah. Dalam tulisannya, Sri Utami Maelani menggambarkan sosok Dadi Mahmudin sebagai pribadi yang mampu menempatkan diri secara tepat di tengah dinamika pikiran dan karakter para guru maupun siswa yang beragam.
Dalam praktik kepemimpinannya, kedisiplinan hadir sebagai upaya menjaga arah dan tujuan bersama di lingkungan sekolah. Ketegasan yang ia tunjukkan sering dipahami sebagai bentuk perhatian terhadap perkembangan para guru dan siswa. Sikap sebagaimana dimaksud di atas menghadirkan pola kepemimpinan yang menggabungkan tanggung jawab, kepedulian, serta komitmen terhadap kemajuan lembaga pendidikan. Seiring waktu, pendekatan ini membangun kepercayaan di antara warga sekolah dan memperkuat kerja sama dalam mewujudkan visi “Maju Bersama, Bahagia Bersama”.
Pemimpin Inklusif
Inklusivitas dalam kepemimpinan pendidikan berkaitan dengan sikap terbuka terhadap gagasan, pengalaman, serta peran berbagai individu dalam kehidupan sekolah. Lingkungan kerja yang inklusif memberi ruang bagi guru, staf, dan siswa untuk menyampaikan pandangan serta berpartisipasi dalam pengembangan kegiatan pendidikan. Dari ruang seperti ini lahir suasana kolaboratif yang mendorong pertukaran ide, kerja sama antarpersonel, serta munculnya berbagai inisiatif yang memperkaya kehidupan sekolah. Kepemimpinan yang inklusif memandang keberagaman pengalaman dan pemikiran sebagai sumber kekuatan bersama. Melalui cara pandang tersebut, sekolah berkembang sebagai ruang belajar yang memberi kesempatan bagi setiap individu untuk terlibat, bertumbuh, dan berkontribusi dalam proses pendidikan.
Perjalanan seorang pendidik terbentuk melalui pengalaman panjang dalam berbagai ruang pengabdian. Dalam tulisan berjudul “Perkenalan Sealam Lama”, Meike Yunita mengenang masa kolaborasinya bersama Dadi Mahmudin di SMKN 1 Padarincang sejak tahun 2012. Masa yang telah dilewati menjadi salah satu fase penting yang memperlihatkan karakter kepemimpinan beliau yang penuh gagasan, terbuka terhadap ide-ide baru, serta mendorong munculnya berbagai inisiatif di lingkungan sekolah. Dalam kesaksiannya, Meike menggambarkan Dadi Mahmudin sebagai sosok yang memandang profesi guru sebagai panggilan pengabdian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Cara pandang ini membentuk etos kerja yang menempatkan pendidikan sebagai ruang pelayanan bagi masyarakat.
Pendekatan kepemimpinan yang inklusif juga terlihat dalam pengalamannya di berbagai sekolah. Dalam tulisan “Catatan Memori untuk Sang Bapak”, Astuti Mardiyanti menggambarkan suasana kerja di SMKN 1 Cikande yang diwarnai interaksi terbuka antara pimpinan dan para guru. Dadi Mahmudin membangun ruang diskusi yang santai dan egaliter untuk membicarakan berbagai hal, termasuk pengembangan literasi dan kemampuan berbahasa di kalangan guru. Hubungan kerja yang terjalin membuka kesempatan bagi guru senior maupun guru muda untuk bertukar gagasan secara lebih leluasa. Kesaksian lain dari Nida Nurhanifa dalam tulisan “Dear Bapak Dadi Mahmudin, M.Pd.” memperlihatkan sikap beliau yang memberi perhatian besar pada potensi individu. Dalam beberapa kesempatan, peluang mengajar diberikan dengan mempertimbangkan kemampuan dan semangat belajar seseorang sehingga potensi yang ada dapat berkembang secara lebih optimal.
Pengalaman pengabdian hadir pula dalam masa kepemimpinannya di SMKN 1 Anyer. Hal itu dituliskan oleh Yuli Nurlianti dalam “Catatan untuk Bapak Kepala Guru.” Pada periode-periode inovasi, Dadi Mahmudin mendorong penguatan kerja sama dengan dunia industri. Ia juga memberi ruang bagi para guru untuk mengembangkan kompetensi sesuai bidang keahlian masing-masing. Bagian “Kilas Balik” merangkum perjalanan panjang seorang pendidik yang menapaki berbagai peran. Ia memulai langkah sebagai guru. Perjalanan itu berlanjut hingga menjadi kepala sekolah di beberapa institusi pendidikan.
Arsitektur Inovasi di Tengah Krisis
Krisis sering menghadirkan perubahan yang menuntut lembaga pendidikan untuk menata kembali arah dan strategi pengembangannya. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan berperan sebagai arsitek yang merancang langkah-langkah baru agar proses pendidikan tetap berjalan dan tujuan lembaga tetap terjaga. Gagasan, kebijakan, serta program yang disusun menjadi kerangka kerja yang menghubungkan kebutuhan sekolah dengan tantangan yang muncul. Dari proses perancangan lahir berbagai inovasi yang membentuk pola kerja baru, memperkuat budaya organisasi, serta memberi arah yang lebih jelas bagi perkembangan sekolah. Arsitektur inovasi inilah yang kemudian menjadi dasar bagi lembaga pendidikan untuk bertahan, beradaptasi, dan terus berkembang di tengah situasi yang berubah.
Kemampuan seorang pemimpin terlihat melalui cara ia menjaga arah lembaga ketika menghadapi perubahan dan tantangan yang tidak mudah. Dalam tulisan “Capaian-Capaian”, Sri Utami Maelani menguraikan bahwa penetapan SMKN 1 Cinangka sebagai SMK Pusat Keunggulan (PK) bidang Pariwisata pada tahun 2022 merupakan hasil dari upaya pengembangan berbagai program sekolah secara konsisten. Program SAPINA, Seribu Sabar, dan SUNSET dikembangkan sebagai bagian dari strategi membangun budaya sekolah yang religius sekaligus kreatif. Melalui program-program yang dijalankan, aktivitas keseharian sekolah diarahkan untuk menumbuhkan karakter kolektif yang kuat, sehingga sekolah memiliki identitas yang jelas dalam lingkungan pendidikan di sekitarnya.
Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi bagian penting dalam pengelolaan sekolah pada situasi yang berubah. Hendi Iswanto menuliskan pengalaman dalam “Catatan Kecil untuk Pemimpin Milenial.” Tulisan itu mengangkat masa ketika Dadi Mahmudin menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala Sekolah di SMKN 4 Kota Serang pada masa pandemi.
Pada periode tersebut, ia mendorong pengembangan sistem pembelajaran jarak jauh. Pelaksanaan ujian secara daring juga mulai diterapkan agar proses pendidikan tetap berjalan. Berbagai langkah itu menjadi bagian dari upaya manajemen sekolah menyesuaikan diri dengan kondisi yang berkembang. Proses belajar siswa tetap dijaga agar berlangsung secara berkesinambungan. Pada tahap berikutnya, pembelajaran tatap muka terbatas mulai dijalankan. Pelaksanaannya mempertimbangkan kebutuhan belajar siswa serta situasi yang memungkinkan.
Pengalaman kepemimpinan juga memperlihatkan keterbukaan dalam berbagi praktik baik dengan lingkungan pendidikan yang lebih luas. Heni Septiyani dalam tulisan “Tetap Menjadi Orang Baik” menceritakan bagaimana tim dari SMK Asy Syuhada Cilegon datang untuk mempelajari penerapan Project Based Learning (PjBL) yang dikembangkan di sekolah. Kunjungan menjadi ruang pertukaran pengalaman antarlembaga pendidikan. Melalui berbagai kesempatan berbagi, terlihat upaya untuk mendorong kemajuan pendidikan melalui kerja sama dan pertukaran gagasan. Dalam konteks inilah kepemimpinan pendidikan memperlihatkan perannya sebagai penggerak yang membuka ruang kolaborasi sekaligus memperkuat jejaring pembelajaran di antara sekolah-sekolah.
Cermin di Mata Siswa dan Kehidupan Personal
Pengaruh seorang pendidik tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi hidup dalam ingatan para siswa serta dalam cara mereka memandang proses belajar. Pengalaman belajar yang berkesan membentuk hubungan emosional antara guru dan murid. Dari hubungan lahir kesan, cerita, dan kenangan yang terus dibawa para siswa setelah mereka meninggalkan bangku sekolah. Pada saat yang sama, kehidupan personal seorang pendidik juga memberi warna tersendiri bagi cara ia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Sikap, kebiasaan, serta kehangatan dalam kehidupan sehari-hari memperkaya cara seorang guru hadir di tengah para siswa. Dari pertemuan antara pengalaman belajar di kelas dan kepribadian dalam kehidupan sehari-hari, terbentuk gambaran utuh tentang sosok pendidik di mata para siswa.
Pengaruh seorang pendidik dapat dilihat dari kesan yang tertinggal dalam ingatan para siswa yang pernah belajar bersamanya. Dalam tulisan “Bapak-Bapak Gaul”, Alda Sanjaya mengenang Dadi Mahmudin sebagai guru elektronika yang memberi ruang luas bagi siswa untuk belajar melalui praktik dan percobaan langsung. Pendekatan pembelajaran yang terbuka membuat siswa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi gagasan dan mengembangkan rasa percaya diri dalam proses belajar. Suasana kelas yang santai dan komunikatif menghadirkan pengalaman belajar yang mendorong kreativitas serta rasa ingin tahu para siswa.
Relasi yang dibangun di lingkungan sekolah juga memperlihatkan perhatian pada dimensi kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Fitria Kurniasari dalam tulisan “Kenangan Penuh Makna” serta Muflihatunnisa melalui “Coretan Singkat dari Sang ‘Anak Tiri’” menggambarkan pengalaman personal ketika berinteraksi dengan beliau. Dalam berbagai kesempatan, Dadi Mahmudin dipandang sebagai sosok yang terbuka untuk mendengarkan dan memberi dukungan moral kepada rekan kerja maupun siswa. Bagi sebagian orang, kehadiran beliau bersama keluarga memberikan kesan kedekatan yang menyerupai hubungan kekeluargaan, sehingga lingkungan sekolah terasa lebih hangat dan saling mendukung.
Sisi personal hadir pula dalam berbagai kisah yang dituturkan oleh rekan-rekan dekatnya. Shelly Yuskartika menyoroti kehidupan personal yang hangat dan penuh perhatian. Ayah Yani, dalam tulisan “Pak Dadi, Teman dan Sahabat,” menggambarkan hubungan pertemanan yang akrab di luar lingkungan kerja. Beberapa kisah ringan ikut memperkaya gambaran dari para penulis kepada segenap pembaca. Ada cerita-cerita spontan yang muncul dalam keseharian. Ada pula kreativitas dalam perayaan Hari Guru dengan nuansa vintage. Rangkaian pengalaman ini membentuk potret kepemimpinan yang bertumpu pada kedekatan, kepercayaan, serta perhatian terhadap sesama. Dari hubungan seperti itulah tumbuh ikatan yang kuat di lingkungan pendidikan.
Satu Visi, Beragam Perspektif
Kepemimpinan di lingkungan pendidikan sering dipahami melalui pengalaman bersama orang-orang yang terlibat di dalamnya. Setiap individu memandang perjalanan kepemimpinan dari sudut yang berbeda, sesuai dengan peran, kedekatan, dan pengalaman kerja yang mereka jalani. Dari perbedaan sudut pandang lahir rangkaian cerita yang saling melengkapi. Kesaksian para guru dan staf menghadirkan gambaran yang lebih utuh mengenai dinamika kepemimpinan dalam kehidupan sekolah. Dalam keragaman pengalaman itu, satu visi bersama tetap menjadi titik temu yang menghubungkan berbagai perspektif.
Beragam pandangan dari rekan sejawat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai cara kepemimpinan dijalankan dalam kehidupan sekolah. Bagian akhir naskah ini memuat kesaksian para guru yang pernah bekerja bersama Dadi Mahmudin, yang masing-masing menghadirkan sudut pandang berbeda mengenai pengalaman mereka. Christi Marinda (Ririn) dalam tulisan “Bukan Sekadar Kepala Sekolah” serta Yeti Helawati menilai bahwa beliau memiliki kemampuan mengenali potensi yang dimiliki setiap guru. Melalui dorongan dan kepercayaan yang diberikan, para guru terdorong untuk mengembangkan gagasan baru serta mencoba pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lebih kreatif.
Perubahan budaya sekolah juga hadir dalam berbagai kesaksian yang menyoroti cara kepemimpinan beliau dalam mendorong pembaruan. Zefri Paisal menyebut gaya kepemimpinan Dadi Mahmudin sebagai gaya “Rock and Roll”, sebuah istilah yang menggambarkan keberanian mengambil langkah yang berbeda dari kebiasaan umum, termasuk dalam situasi pandemi. Pandangan ini diperkuat oleh Elis Muamaroh dalam tulisan “Pembelajaran Berdiferensiasi, ‘Kepala Segala Pandang’”, serta Husnul Hotimah melalui “Bintang Kebaikan”. Berbagai ide yang diperkenalkan pada awalnya memerlukan proses adaptasi bagi para guru. Dalam perkembangannya, ide-ide memberi pengalaman baru yang memperkaya dinamika pembelajaran di sekolah.
Kesaksian lain juga menyoroti dampak kepemimpinan terhadap suasana kerja di lingkungan sekolah. Zainal Abidin dalam tulisan “Maju Bersama, Bahagia Bersama” menggambarkan bagaimana sekolah berkembang sebagai ruang kerja yang memberi rasa kebersamaan bagi para guru dan staf. Penghargaan terhadap momen-momen personal juga menjadi bagian dari budaya yang tumbuh di lingkungan sekolah. Hal ini diceritakan oleh Avinagustin Suris dan Lulu Kuspiani melalui kisah mengenai penghargaan “Wedding Award” yang diberikan kepada staf. Beragam cerita yang disajikan membentuk gambaran kepemimpinan yang bertumpu pada visi yang jelas, kepercayaan terhadap potensi individu, serta upaya menjaga kebersamaan dalam kehidupan kerja sehari-hari.
Kepemimpinan di Persimpangan Zaman
Kepemimpinan dalam dunia pendidikan dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mengarahkan, memengaruhi, dan menggerakkan sebuah komunitas belajar menuju tujuan bersama. Dalam kajian ilmu sosial, kepemimpinan juga kerap dipahami sebagai respons terhadap semangat zaman atau zeitgeist, yaitu kondisi sosial, budaya, dan intelektual yang membentuk cara masyarakat memandang perubahan pada suatu periode tertentu. Ketika sebuah lembaga pendidikan berada pada masa peralihan, yaitu antara pola lama dan tuntutan baru. Situasi yang dapat disebut sebagai persimpangan zaman. Pada titik inilah kepemimpinan memperoleh peran penting untuk menentukan arah perkembangan lembaga agar mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Pengalaman kepemimpinan Dadi Mahmudin di SMKN 1 Cinangka dapat dipahami dalam konteks persimpangan. Perubahan kebijakan pendidikan, perkembangan teknologi, serta dinamika sosial masyarakat menuntut sekolah untuk terus beradaptasi. Dalam situasi yang demikian, berbagai inisiatif yang dikembangkan di lingkungan sekolah memperlihatkan upaya untuk menjawab tantangan zaman melalui penguatan budaya belajar, pengembangan kreativitas siswa, serta kerja sama yang lebih luas dengan berbagai pihak. Upaya memperlihatkan bagaimana kepemimpinan pendidikan berperan sebagai penggerak yang membantu komunitas sekolah menavigasi perubahan secara bersama-sama.
Filosofi “Maju Bersama, Bahagia Bersama” yang diusung dalam kepemimpinan Dadi Mahmudin kemudian menjadi landasan nilai yang membingkai berbagai kegiatan di lingkungan sekolah. Nilai-nilai yang ditetapkan menekankan pentingnya kebersamaan dalam proses belajar dan bekerja, sehingga setiap warga sekolah merasa memiliki peran dalam perkembangan lembaga. Melalui pengalaman yang terekam dalam berbagai kesaksian di dalam buku ini, terlihat bagaimana gagasan membentuk suasana kerja yang mendorong kolaborasi serta rasa memiliki terhadap sekolah.
Jejak kepemimpinan Dadi Mahmudin memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah lembaga pendidikan berkembang melalui perpaduan antara visi, kerja kolektif, dan komitmen terhadap proses pembelajaran yang berkelanjutan. Pengalaman yang dihimpun dalam buku ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan pendidikan bertumpu pada kemampuan membangun hubungan, menumbuhkan kepercayaan, serta membuka ruang bagi pertumbuhan bersama. Dalam konteks itulah perjalanan kepemimpinan di SMKN 1 Cinangka menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah perubahan zaman.
Gaksa, 2026











