Kegiatan

Terbaru

Catatan Kecil untuk Buku Ismat Ketjil: Wajah Kota Cilegon Masa Lalu

 

Oleh: Rizky Try Wardana (Ketua Bidang Penerbitan Gaksa)

Data Buku

  • Judul: Ismat Ketjil
  • Penulis: Ismatullah Syihabudin
  • Penerbit: Gaksa Enterprise
  • Tahun Terbit: 2024
  • Penyunting: Muhammad Rois Rinaldi

 

  1. Melacak Jejak Kecil Kota Cilegon

Membaca Ismat Ketjil karya Ismatullah Syihabudin terasa seperti mencari kembali jejak yang tertimbun di bawah lapisan aspal dan karat industri. Melalui cerita Iim, panggilan kecil sang penulis, kita diajak melihat Cilegon era 1970-an hingga 1980-an yang sedang berubah drastis. Kota itu berganti rupa, dari rimbun pohon asem menjadi deretan bangunan baja yang kaku.

Tulisan ini merupakan upaya untuk menghadirkan kembali gambaran tentang hilangnya ruang hidup yang alami. Ismat merekam setiap pergeseran dengan ketelitian seorang saksi mata. Ia tidak ingin membiarkan jati diri kotanya hilang ditelan arus kemajuan yang sering kali tidak acuh terhadap nilai-nilai setempat.

Buku ini menjadi jembatan yang menghubungkan ingatan pribadi dengan sejarah orang banyak. Ceritanya bergerak di antara sisa-sisa tradisi dan suara mesin yang kian merajai. Ismat tidak hanya bercerita tentang dirinya; ia mengisahkan bagaimana tatanan sosial masyarakat dibongkar demi impian kemajuan nasional.

Melalui sudut pandang anak-anak yang jujur, tulisan ini mengurai perasaan kehilangan akibat perubahan ruang. Hal tersebut mungkin jarang dibicarakan dalam rapat-rapat pembangunan, namun terasa nyata dalam hilangnya tempat bermain dan berubahnya cara orang saling menyapa di pusat industri tersebut.

  1. Pilihan Kata dan Penulisan Ingatan

Ismatullah Syihabudin menggunakan cara bertutur tertentu yang memberikan isi pada setiap penggalan ceritanya.

  • Gaya Bahasa yang Dekat dengan Keseharian: Gaya bahasa dalam buku ini terasa hidup dan menyentuh sisi kemanusiaan. Ismat menjauhi bahasa sejarah yang kering atau kaku. Ia memilih kata-kata yang punya rasa namun tetap berpijak pada kenyataan. Kalimatnya mengandung kiasan seperti “rimba baja” yang menggambarkan perubahan fisik Cilegon. Penggunaan istilah lokal Jawa Banten mempertegas bahwa cerita ini lahir dari akar budaya yang nyata. Gaya bahasanya menjaga kejujuran mata anak-anak. Ia membiarkan rasa heran dan kepolosan mengalir melalui gambaran apa yang ia dengar, cium, dan raba tanpa dibuat-buat seperti sudut pandang orang dewasa.
  • Teknik Menulis Ingatan (Sejarah Kecil dan Potongan Kejadian): Ismat menggunakan cara memotret sejarah besar perubahan kota melalui unit terkecil: keluarga, tetangga, dan permainan. Ia tidak memulai dengan angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dengan aroma gulai kerbau atau bunyi lesung yang ditumbuk. Ia juga menghubungkan benda-benda di sekitarnya dengan nilai hidup yang ia pelajari. Penulisan ini tidak selalu berurutan menurut waktu. Ceritanya melompat-lompat mengikuti cara kerja otak manusia saat mengenang; ingatan hadir berdasarkan makna yang paling membekas dalam hati.

 

  1. Potongan Hidup Cilegon Masa Lalu

3.1 Jombang Masjid: Lingkungan yang Hangat dan Akrab

Dalam bab “Ngaji dan Sekolah Madrasah”, Ismat mendedah sebuah lingkungan sosial yang luar biasa. Jombang Masjid menjadi tempat tumbuh bagi tokoh-tokoh penting di Cilegon, termasuk keluarga Walikota pertama, Aat Syafaat.

Kehadiran pegawai kereta api, para guru, hingga mantri kesehatan seperti Mantri Tejo dan Mantri Maming menciptakan lingkungan warga yang rukun. Tidak ada jarak yang memisahkan mereka meski kedudukannya berbeda. Hubungan bertetangga ini membentuk dukungan hidup yang sangat kuat. Anak pejabat dan anak pegawai biasa bermain bersama di pinggir rel. Cilegon masa lalu dibangun di atas kebersamaan. Pendidikan dan teladan didapat langsung dari teras rumah tanpa prosedur yang rumit.

3.2 Kejujuran dalam Identitas

Hal yang menarik adalah kepatuhan penulis terhadap wasiat leluhur. Ismat secara sadar melepaskan gelar kebangsawanan “Tubagus” bagi keluarganya sesuai amanat sang kakek. Langkah ini menunjukkan sikap rendah hati dan apa adanya. Dengan melepaskan gelar itu, Ismat kecil tampil sebagai manusia yang jujur di hadapan sejarah. Pilihan ini justru memperkuat suaranya dalam bercerita; bahwa harga diri seseorang dilihat dari perilaku dan manfaatnya bagi sesama, seperti semangat kesetaraan yang ia rasakan di Jombang Masjid.

3.3 Pusat Kota Santri

Cilegon memiliki jati diri sebagai Kota Santri dengan akar sejarah yang kuat. Berdirinya Al-Khairiyah oleh Brigjen KH Syamun dan Al-Jauharotunnaqiyah menciptakan jaringan ilmu agama yang luas. Ismat mencatat sejarah ini untuk menjelaskan mengapa agama menjadi bagian tak terpisahkan dari warga setempat.

Pengorbanan nyata terekam ketika pengelola pesantren harus pindah demi pembangunan pabrik baja pada era 1960-an. Tanpa kerelaan para ulama melepas tanah mereka, proyek nasional PT Krakatau Steel mungkin tidak akan berdiri. Ada ungkapan bahwa seseorang belum menjadi warga Cilegon sejati jika tidak bisa mengaji. Keyakinan ini menjadi pegangan moral di tengah arus industri.

3.4 Madrasah Diniyah: Debu Kapur, Asap Rokok, dan Bahasa Banten

Gambaran pendidikan tradisional yang asli muncul melalui Madrasah Diniyah. Sosok Ustad Abu Bakar yang mengajar sambil menghisap rokok kretek menggambarkan suasana kelas yang penuh debu kapur namun penuh ilmu. Di sana, pelajaran agama disampaikan dengan menerjemahkan bahasa Arab ke dalam bahasa Jawa Banten sehari-hari.

Keseimbangan antara sekolah umum di pagi hari dan madrasah di sore hari menjadi pembentuk karakter masyarakat. Ismat merekam sisi emosionalnya saat harus berjualan Es Ampera demi membantu orang tua. Pengalaman itu menanamkan sikap kerja keras. Hafalan sifat Allah dan perjuangan mencari uang di pasar menunjukkan bahwa madrasah adalah tempat menempa ketangguhan mental.

3.5 Nyonya Sakam dan Impian Kota Besar

Ny. Sakam hadir sebagai orang yang mengantar warga Jombang Masjid untuk melihat dunia luar. Ia melihat keinginan masyarakat yang ingin menyaksikan kemajuan Jakarta setelah adanya TMII dan PRJ tahun 1975. Dengan sistem cicilan, ia membawa rombongan warga kampung menuju kota besar.

Perjalanan menggunakan bus Srimaju yang sesak dan penuh aroma minyak angin adalah pengalaman fisik yang berat. Namun rasa lelah itu hilang saat mereka naik kereta gantung di TMII. Momen itu menyadarkan Ismat kecil tentang luasnya tanah air. Kelelahan di perjalanan dianggap sebanding dengan pengalaman melihat kemajuan.

3.6 Ritual Haji: Dari Jalur Laut ke Udara

Ingatan haji tahun 1975 menandai perubahan besar dari perjalanan kapal laut menuju pesawat terbang. Peralihan ke pesawat Garuda Indonesia melambangkan kemajuan teknologi yang menyentuh sisi batin. Persiapan haji kala itu masih dianggap penuh risiko, sehingga perpisahan sering kali diiringi rasa ikhlas jika tidak kembali.

Cerita tentang Ismat yang sempat tertinggal di Asrama Haji Cilodong menjadi bagian yang sangat manusiawi. Ia sendirian tanpa uang di tengah kerumunan orang asing. Ia akhirnya diselamatkan oleh Mang Hamdi yang mengenalnya lewat logat Jawa Banten yang khas. Pelajaran ini menunjukkan bahwa persaudaraan lewat bahasa dan asal-usul menjadi penyelamat di saat sulit.

3.7 Lebaran, Bioskop Apollo, dan Kegembiraan Rakyat

Lebaran bagi Ismat kecil adalah puncak kebahagiaan saat bisa makan gulai kerbau dan menonton film di bioskop Apollo. Gedung itu berdiri di atas bekas lahan kuburan Belanda dan menjadi tempat hiburan rakyat. Menonton Benyamin Sueb adalah pengalaman menyenangkan di mana semua orang duduk berdampingan tanpa melihat status sosial.

Di dalam bioskop, orang bebas berekspresi. Penonton bisa berteriak atau tertawa keras tanpa perlu menjaga citra diri. Hiburan adalah sesuatu yang sangat berharga dan diusahakan dengan semangat anak-anak, seperti mencoba masuk lewat pagar seng. Kebahagiaan lahir dari kesederhanaan dan kebersamaan.

3.8 Kesenian dan Pandangan Masyarakat

Ismat juga menengok sisi lain kota, seperti perjudian di sekitar stasiun. Pengalaman ini memberikan gambaran bagaimana kesenian rakyat seperti Ubrug dan Tarling sering kali disalahpahami oleh tokoh agama. Ketegangan antara aturan moral dan ekspresi seni menjadi catatan penting tentang bagaimana warga mengatur hiburan mereka. Sebaliknya, Ismat memperkenalkan sisi lain melalui ayahnya, H. Syihabudin, seorang penyanyi Gambus. Lewat sang ayah, seni ditampilkan sebagai cara menyampaikan kebaikan yang terhormat. Seni dan pesan agama bisa berjalan beriringan.

3.9 Rumah Masa Kecil: Ladang Kasih Sayang

Rumah Ismat di Jombang Masjid adalah bangunan peralihan dari kayu ke bata. Bagian rumah seperti tempat lampu minyak dan gentong penampung hujan menunjukkan keselarasan dengan alam. Rumah bukan sekadar bangunan; ia adalah tempat orang tua menanamkan kasih sayang. Dapur menjadi pusat kegiatan di mana orang belajar kerja keras. Kegiatan menumbuk padi dan aturan di dapur mengajarkan disiplin. Rumah berdiri sebagai saksi tumbuh kembang anak-anak yang dibekali nilai-nilai hidup sebelum mereka menghadapi dunia luar.

3.10 Dunia Permainan: Antara Keberanian dan Kerja Sama

Dunia anak-anak Cilegon dalam buku ini terasa keras namun jujur. Budaya berkelahi atau main silat-silatan didasari oleh tontonan yang mereka lihat. Permainan anggar kayu hingga mengejar layangan adalah tempat membentuk karakter. Ada aturan yang kini jarang terlihat: meski tubuh lecet, tidak ada rasa dendam setelah permainan selesai. Kegiatan mengejar layangan melatih fisik dan perhitungan. Memperhatikan arah angin dan mengenali medan dari kuburan hingga semak belukar adalah cara mereka belajar navigasi yang kini tergusur pembangunan. Permainan tradisional membentuk mental bersaing yang sehat.

3.11 Perpindahan Tempat: Jombang Masjid ke Kavling Blok C

Pindahnya keluarga ke Kavling Blok C tahun 1975 menandai babak baru. Wilayah itu awalnya sepi tanpa listrik atau air. Namun keterbatasan memicu kreativitas untuk bertahan. Orang tua Ismat mengubah lahan kosong menjadi tempat bercocok tanam dan memelihara ternak untuk kebutuhan sendiri. Di sana Ismat belajar memasang perangkap ikan dan mencari belut. Penjelasan tentang cara memegang belut menunjukkan betapa akrabnya anak-anak dengan alam. Lingkungan Cilegon saat itu masih asri sebelum akhirnya tertutup oleh perumahan dan perluasan pabrik.

3.12 Hubungan Sosial: Warga Tionghoa dan Tontonan Militer

Catatan tentang warga etnis Tionghoa menunjukkan hubungan yang akrab tanpa batas. Mereka berbaur melalui bahasa Jawa Banten yang lancar. Perbedaan antara anak sekolah yang berpakaian rapi dengan anak kampung digambarkan sebagai keberagaman yang saling menghormati. Peristiwa Hari ABRI tahun 1980 di Cigading menggambarkan hubungan baik warga dengan militer. Ribuan orang yang turun dari langit dengan payung (terjun payung) dianggap sebagai tontonan hebat yang menyatukan masyarakat dalam rasa bangga. Hal ini tampil sebagai simbol kekuatan yang memberi rasa aman bagi warga.

  1. Mencari Jalan Pulang

Ismat Ketjil adalah catatan kemanusiaan yang membuktikan bahwa sejarah tidak selalu soal angka dan peristiwa besar. Sejarah justru terasa lebih jujur ketika ditulis oleh seorang anak melalui ingatan akan hal-hal kecil. Buku ini menjadi pengingat untuk menghargai mereka yang namanya mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah pembangunan.

Ismatullah Syihabudin menunjukkan bahwa di balik bisingnya mesin dan debu baja, ada sisi kemanusiaan yang berharga untuk dijaga. Buku ini berfungsi sebagai petunjuk bagi siapa pun yang merasa asing di tengah kemajuan zaman yang dingin. Tempat paling berarti untuk pulang adalah kembali ke jati diri yang pernah kita miliki di masa kecil. Kita diajak berdamai dengan masa lalu agar masa depan Cilegon tetap memiliki jiwa dan akar sejarah yang jelas.