Kegiatan

Terbaru

Buku “Jejak Cinta di Tengah Tradisi Seruyan” Resmi Terbit!

“Tradisi bukanlah sekadar peninggalan masa lalu, tapi jembatan cinta yang menghubungkan generasi.”

Buku Jejak Cinta di Tengah Tradisi Seruyan karya Mondri Alfian, S.M.Pd. adalah sebuah karya sastra yang lahir dari denyut kehidupan masyarakat pesisir Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Dengan latar tradisi, cerita rakyat, hingga nilai-nilai lokal yang sarat makna, buku ini menyajikan tiga kisah utama yang akan menggetarkan hati dan menyentuh jiwa pembaca.

Lebih dari sekadar kumpulan cerita, buku ini mengajak kita menyelami makna terdalam di balik adat, mitos, dan kehidupan masyarakat Seruyan. Dari tradisi baayun anak yang penuh simbol cinta dan harapan, hingga kisah kapahunan yang membenturkan akal sehat modern dengan kearifan lokal yang lestari, dan cerita pamungkas yang menghidangkan cinta dalam bingkai adat dan spiritualitas.

Spesifikasi Buku

  • Judul : Jejak Cinta di Tengah Tradisi Seruyan
  • Penulis: Mondri Alfian, S.M.Pd
  • Penyelia Naskah & Penata Letak : Rizky Tri Wardana
  • Tebal: 171 halaman (A5)
  • Terbit: Juli 2025
  • Diterbitkan oleh: Yayasan Gaksa Trans Kultura
  • Disarankan oleh: Dinas Perpustakaan & Kearsipan Kabupaten Seruyan
 

Jejak Cinta di Tengah Tradisi Seruyan bukan sekadar kumpulan cerita fiksi. Ia adalah benang-benang halus yang menyatukan cinta, budaya, dan identitas masyarakat Seruyan dalam satu tarikan napas naratif yang hangat dan menyentuh.

Melalui tiga kisah yang kaya makna, pembaca diajak menyelami filosofi di balik tradisi seperti beayun anak, menghadapi dilema antara logika modern dan kepercayaan lokal (kapahunan), hingga menyaksikan bagaimana cinta tumbuh dalam bingkai adat dan spiritualitas.

Buku ini mengingatkan bahwa adat bukanlah penghalang kemajuan, melainkan pondasi nilai yang menjaga manusia tetap manusia—berakar, bersahaja, dan saling menghormati. Dengan gaya bertutur yang ringan namun bermakna, karya ini sukses menghidupkan kembali cerita-cerita yang nyaris hilang ditelan zaman.

Tradisi bukan untuk dikenang, tapi untuk dihidupi dan diwariskan—dengan cinta, tawa, dan kesadaran akan siapa diri kita sebenarnya.