BIODATA. Novia Rika Perwitasari. Berasal dari Malang, Jawa Timur. Saat ini tinggal di Tangerang Selatan. Senang menulis puisi untuk menghidupkan jiwanya. Karya puisinya masuk dalam berbagai buku antologi puisi nasional serta beberapa media puisi internasional seperti Dying Dahlia Review, The Murmur House, Haiku Masters NHK Japan, Optimum Poetry Zine. Pernah meraih juara 1 nasional lomba puisi Penerbit Oksana (2015), juara 1 nasional lomba puisi Majelis Sastra Bandung (2016), juara 1 nasional lomba puisi “Pindul Bersajak” (2017), juara 2 nasional Sayembara Pena Kita (2017), dll. Ia juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam World Festival of Youth & Students 2017 di Rusia karena kegiatannya di bidang sastra.

PUISI

5.01. Tanah Kehidupan.
5.02. Tuhan Dan Pilihan.
5.03. Arwah.
5.04. Lautan Rahsia.
5.05. Mencari Jalan Cahaya.
5.06. Ditampar Setan.
5.07. Selamat Tinggal Yang Indah.
5.08. Langit Gerhana.
5.09. Laut Biru Langit.
5.10. Menghancurkan Diri.

5.01.

TANAH KEHIDUPAN

Kita tiba pada tanah yang tak bersuara
yang mendekap kehidupan sedekat kematian
direkat debu-debu yang terlahir
dari degup jantung dan kesunyian di antaranya
Kau dengar nama siapa?

2018.

5.02

TUHAN DAN PILIHAN

Terkadang Tuhan menyukai permainan
membolak-balik hati dan garis tangan
karena Ia tahu kita akan terlahir di akhir kematian
melalui pilihan yang kita tancapkan sendiri
di hati dan perbuatan

24 April 2018.

5.03.

ARWAH

Petir benderang di lengkung gerbang bintang-bintang
Langit gelap menguasai jiwa
lautan, hutan, bukit pasir dan rerumputan
Aku menguasai kesunyian yang dijanjikan
oleh langit pada hatiku yang tak tahu adat,
memanggil semua cahaya putih remang
Agar menyala dan tak membiarkan arwah-arwah pudar
Doaku akan datang untukmu..

Seluruh dunia yang tak dapat kita lawan
dengan hasrat fana berapi-api
Bagai hujan yang tak bisa kita balikkan arah
Bagai kematian yang tak bisa kita larikan diri
Kita hanya bisa mendengar jiwa-jiwa
lautan, hutan, bukit pasir dan rerumputan
Memanggil kita bagai sapuan angin

April 2018

5.04.

LAUTAN RAHASIA

Keluarkanlah air mata
dari hatimu yang biru,
lebam membatu
seperti butir hujan
di samudera pulau terluar
jauh, diterkam angin-angin liar

Rahasia selalu bagai hantu
menguntit dan menguliti
rasa yang meledak di balik dada
karena bibirmu serupa pantai
membentengi hatimu yang lupa
cara menulis kejujuran

Batu-batu laut
mengembang dalam dada
menciptakan bahasa
yang hanya bisa diartikan
dengan artikulasi sunyi
mengendap lalu menghitam

Hapuslah dengan air mata
dan pedang bermata cahaya
sebelum terlambat!
rasa sakit mampu mengubah manusia
terkadang kuat,
terkadang mengerikan

Di akhir hari kau akan sendiri
seperti sampan kosong di tengah lautan
di bawah cahaya matahari
dan hamparan ombak kebiruan
tiba waktunya kau memilih
mengisi kembali hidupmu

2018

5.05.

MENCARI JALAN CAHAYA

Hidup bagai langit dan samudra menyatu
Luas tak berkesudahan, penuh gelombang yang menggentarkan
Hati kita setitik debu yang berhamburan, atau tenggelam di dasar lautan
Selalu mencari jalan cahaya

Kehidupan yang bermekaran di muka bumi
Perpaduan keindahan dan keburukan,
kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kepalsuan,
Bagai bunga yang bermekaran di tengah belukar berduri
Dan hati kitalah, yang selalu mengingat-Nya
akan mengikis duri-duri itu

Hidup teramat kuat memberikan pilihan
Seringkali berselimut tipu daya
Takdir manusia terlahir untuk mencari jawaban
Dari hati kita sendiri dan janji-janji Tuhan;
Tugas kita adalah berjalan di bawah cahaya-Nya
Yang terang atau tersembunyi
Terkadang, bulan demi bulan kita larung dalam hidup yang fana

Karena kasih-Nya Ia membuka pintu
Secercah cahaya bagi manusia
Ramadhan yang mulia, bulan suci pengetuk pintu hati
Penunjuk jiwa yang tersesat
Membebaskan hati yang terkunci

Diam dan dengarlah
Hapus kebisingan nafsu duniamu
Diam dan ingatlah,
Doa-doa yang dilafalkan alam semesta
Menyatu dalam ibadahmu, keikhlasanmu
Sambutlah cinta dalam hatimu,
kasih pada saudara dan sesama
Dan berserah jiwa ini
Hingga akhir usia kita berjalan di bawah cahaya-Nya

Juni 2018.

5.06.

DITAMPAR SETAN

Hatimu mendadak merah
Padahal kau tahu cinta tak pernah abadi
Dan kau telah menguburnya dalam tulang-tulangmu
Kau sisakan segenggam harga wanita

Kau tahu, kau selalu tahu
Cinta yang resah adalah milik kehampaan
Tak bertuan di relung dada yang melupa kerinduan
Ada yang palsu,
     ada yang palsu dari hatimu

Hatimu mendadak merah
Melihat gincu merah di kerah
Dan ribuan dusta yang berkerumun di dadanya
Ada yang salah,
     ada yang salah dari nafsu
Hatimu sakit ditampar setan dan sepenggal kedustaan
Kau lihat, perlahan hatimu mati sekeras batu

Jakarta, 23 September 2016.

5.07

SELAMAT TINGGAL YANG INDAH

Dalam kegelapan inginmu aku menyerah
Kita tak akan pernah mengerti bagaimana caranya memperbaiki
Hati tak pernah jadi buku yang mudah dibaca
Tapi aku masih mengingat suaramu yang bernada rendah
Yang memelukku sepanjang musim

Tapi suara bukanlah jawaban
Maka di kegelapan inginmu aku mengakui hatiku
Aku telah menyegel namaku di udara
Saat pikiran tentangmu telah mengeringkan air mata
O, sungguh aku berharap kita tak telanjur patah
Hingga saat kita akhirnya bertemu hanya tersisa sedikit luka untuk diobati

Diam-diam aku tahu, terlalu banyak duka yang kita rahasiakan
Kita saling mencari penyembuhan satu sama lain
Kita salah, kita tak akan menemukan penawar di luar hati kita sendiri
Di sana kita berdiri, tak genap dan berdarah
Lalu aku mendengar dunia bernyanyi
Nyanyian puitis paling lembut
Menyanyikan selamat tinggal yang indah

2018.

5.08.

LANGIT GERHANA

Di langit gelap terbit cahaya merah
yang kukira gerhana, dan aku
bersiap menutup mata,
tapi mataku tak sanggup
karena hatiku berdetak seperti bulan retak
dibelah cahaya matahari yang mulai menjejak
di permukaan bulan, dingin dan terjal

Tubuhku menggigil
pada kesadaran yang merekah
tanpa permisi, tanpa peringatan, tanpa sejarah
mengapa hati bergoyang bagai badai antariksa
melukiskan gerhana tanpa rencana

Aku tahu bulan akan segera datang
setelah melewati gerhana matang
dan aku harus menutup mata, menyatu dengan bumi
namun entah mengapa kesunyian begitu jahat
dan membuatku tak mampu bergerak
berbaring aku, tanpa suara, memandang kegelapan
ditera gerhana yang meremang kemerahan
berharap hatiku hancur sebelum bulan lahir kembali
dan kembali pada kesunyian

Jakarta, 12 April 2018.

5.09.

LAUT BIRU LANGIT

Saat kau meraih tanganku
Hidup kita berubah jadi cahaya kelabu
Di kedalaman laut biru langit
Batas halus antara permadani awan tebal
Mereka ingat warna kulit kita
Memucat dalam air garam,
ketika hati kita dibongkar di atas ombak

Hati kita bicara dengan bahasa lautan
Kuat tapi tak harus ditafsirkan
Luar biasa, tapi harus jadi rahasia
Dalam hati, terdapat samudra yang tak bisa kita seberangi
Karena kita hanyalah manusia
Dengan berkah mencintai,
          dan kutukan mencintai

Jakarta, 24 April 2018.

5.10.

MENGHANCURKAN DIRI

Biarkan aku menghancurkan diri sebentar lagi
dalam kenangan yang lahir di genggamanku
penuh tanda tanya dan rasa sepi
menjejali perjalanan yang tak terurai oleh waktu
dan terbentang di sepanjang mataku

Samudra kesunyian mencelupkan nada bising
pada kesadaranku yang terganggu, maka
aku ingin hancur agar hatiku tersadar
jalan yang salah bukanlah pilihan
namun kutukan yang seakan-akan indah

Bagiku tak ada jalan untuk melupakan
selain menerjunkan diri pada kesedihan
ini hukuman yang harus dengan berani dicambukkan
agar hati tak lagi tersesat,
meski bertabur luka
harus kuyakin akan kudapatkan diriku kembali

Akasia, 11 Mei 2018.

TAMAT.