7. MUHAMMAD ROIS RINALDI

BIODATA. Muhammad Rois Rinaldi, penyair kelahiran Banten 8 Mei 1988. Ketua Koordinator 2 dan Koordinator Nasional bagi Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (GAKSA) dan Presiden Lentera Sastra Indonesia (LSI). Bersastra sejak 1998. Tulisannya berupa puisi dan esai dimuat di berbagai media massa, baik lokal, Nasional, maupun beberapa media massa di beberapa negara Asia Tenggara. Karya-karyanya juga telah diterbitkan dalam bentuk buku, di antaranya Puisi Sepasang Angsa (Abatatsa, 2012); Terlepas (Pustaka Senja, 2015); esai Sastracyber: Makna dan Tanda (Esastera Enterprise, 2016); esai Koperasi dari Barat (Gaksa Enterprise, 2017), Pemanggungan Puisi; Panduan Praktis Baca Puisi (Gaksa Enterprise, 2018), dan Membaca Puisi-puisi Penyair Perempuan Asia Tenggara (Gaksa Enterprise, 2018). Rois menerima penghargaan Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera, 2014) dan Anugerah Utama Penyair Alam Siber (E-SASTERA, 2015, 2016, dan 2017). Bukunya yang bertajuk Sastracyber: Makna dan Tanda menjadi buku terbaik terbitan Esastera Enterprise di Malaysia dalam kurun waktu 10 tahun (2006-2016). Ia dapat dihubungi melalui surel: rois.rinaldi.muhammad@gmail.com.

PUISI
7.01. Kekasihku
7.02. Kemanusiaan
7.03. Para Pedagang
7.04. Pada Musim Kesekian Setelah Pelarian
7.05. Di Sekitar Tungku Yang Selalu Kau Nyalakan
7.06. Kegembiraan Kecil-kecilan
7.07. Hari Pertama Setelah Kekalahan
7.08. Setiap Anak Yang Terlahir
7.09. Alif Lam Ro
7.10. Fan…

7.1.
KEKASIHKU

Bom meledak lagi, Kekasihku. Kemarin pagi,
sepuluh jasad terlempar dari gereja.

Seorang pengantin wanita pingsan menimpa
tubuh pengantin pria yang koyak.

Seorang ayah meronta-ronta
ketika menemukan mayat gadis kecilnya
di bawah altar yang runtuh.

Orang-orang di dalam garis polisi
bertanya: “Kitab suci mana
yang mengajarkan cara meledakkan bom?”

Orang-orang di luar garis polisi bertanya:
“Keimanan mana yang membolehkan
pemusnahan terhadap manusia?”

Jauh dari gerbang gereja, di televisi,
koran, Facebook, Twitter, dan Instagram
tangisan itu diperdengarkan
dengan narasi pengantar yang berbeda-beda.

Orang-orang menyemburkan caci maki
atas nama duka kemanusiaan.

Orang-orang berdebat di kolom komentar
pada sebuah foto gereja yang porak-poranda
atas nama pertanyaan dan kebingungan.

Aku pada pertanyaan dan kebingungan itu
limbung. Suara manusia
adalah ledakan setelah ledakan.

Dunia manusia dan ledakan terlalu dekat.

Kekasihku,
waktu magrib orang-orang shalat
dibrondong peluru.

Perkampungan yang tenteram dan sunyi itu
tiba-tiba dipenuhi rintih dan pekik.

Seorang perempuan tua yang mengangkat
tubuh anak bujangnya, marah dan bertanya:
“Dari mana  datangnya segerombolan lelaki
berompi tebal dan bertopeng kupluk itu?
Di mana mereka tinggal
dan apa gerangan agamanya?
Agama macam apa yang membiarkan
tangan umatnya membantai
orang-orang yang sedang menghadap Tuhan?”

Jasad jamaah yang bergelimpangan
tidak memberi jawaban.

Takkan mungkin  memberi jawaban.

Jasad sang imam yang dicinta
telentang menghadap langit.

Kedua tangan tengadah seperti sedang berdoa.

Matanya yang terbelalak seakan kecewa
menatap langit, di mana manusia
hidup di  bawahnya
dalam rentetan drama permusuhan.

O selain rintih dan pekik itu
yang sungguh bersimbah adalah darah.

Sajadah bersimbah darah.

Pengimanan bersimbah darah.

Mimbar bersimbah darah.

Al-Qur’an bersimbah darah.

Lampu bersimbah darah.

Darah itu diantarkan televisi, koran,

Facebook, Twitter, dan Instagram.

Orang-orang yang jauh dari masjid,
yang tidak punya garis darah
keturunan selain garis darah Adam
memuntahkan kutukan demi kutukan,
lantaran kebiadaban
terhadap hak hidup manusia
tidak tahu harus dituntut
kepada siapa.

Kekasih, bicaralah kepadaku!

Bahasa manusia telah dikuasai senjata.

Jiwaku terlunta di antara tubuh-tubuh
yang telungkup,
tubuh-tubuh yang telentang,
tubuh-tubuh kaku yang koyak.

Dari kuil-kuil,
sesaat setelah ritual peribadatan berakhir
suara keabadian ras dan kedigjayaan
didengungkan atas nama suku dan etnis
sebagai seruan suci.

Orang-orang yang lain warna kulitnya,
yang berbeda agamanya
yang tidak segaris turunannya
adalah ancaman bagi
halusinasi keabadiaan dan kedigjayaan itu.

Mereka tidak rela menjadi kaum
yang musnah karena keyakinan
orang-orang di masa depan berpindah.

Peluru menembus dada anak-anak
dalam dekap seorang ibu
yang mencari suaka.

Peluru menembus dada seorang ibu
yang mengecupi darah di kepala anaknya.

Peluru dari senjata tentara
yang direstui raja dan kuil
meledak di dada juga kepala siapa saja.

Orang-orang lemah,
beratus ribu orang lemah
terombang-ambing di laut lepas.

Negara-negara yang konon mencintai
kemanusiaan, menolak manusia-
manusia tidak berdaya atas nama
keamanan negara.

O anak Adam yang lalai.

O zaman yang kehilangan rahim Hawa.

Dunia dikepung duka dan amarah.

Tabiat daratan manusia.

Abad-abad kegelapan.

Abad kalut dirundung kegilaan.

Kekasihku.

Kekasihku.

Akalku meledak!

Sukmaku meledak!

2018.

7.02.
KEMANUSIAAN

… yang didengungkan 
orang-orang terlambat baligh
adalah kemanusiaan kembang gula,
mudah lenyap dimakan angin. Kenyataan
disamarkan oleh lidah orang ngamprah
sementara kepalsuan adalah kenyataan
yang dibuat-buat.

Semua di tangan orang-orang terlambat
baligh, bermula dari permaian
berakhir untuk sebuah permainan.

Kemanusiaan pada orang dewasa
adalah kemanusiaan bawah pusar.

Birahi adalah tuhan bagi cita-cita.

Genosida adalah pembuat bunga
berdarah yang jadi hiasan pada meja
pertemuan para panglima.

Kejahatan perang hanya parodi
heroism gagal yang diberi tepuk tangan.

Setelahnya, orang-orang tinggal memilih
tertawa atau menangis di depan televisi.

Keduanya, sama tidak berguna.

Kemanusiaan dari mulut para penjahat
selalu berhasil dibicarakan dengan
bahasa surga, tanpa dapat dibantah!

Kisah-kisah diubah dengan mudah.

Kebenaran jadi berita simpang siur
yang diragukan orang-orang cerdas,
dipungkiri buku-buku.

Kematian anak-anak dan para perempuan
di bawah kibaran bendera itu?

Sama seperti lenyapnya jutaan nyawa
dalam perang-perang barbar.

Kemanusiaan pada parade kemanusiaan
para penjahat
berarti hak mengangkat senjata.

Bahasa sejarah berbicara.
dalam lembaran koran yang setiap harinya
terbit jutaan eksemplar.

Tangan-tangan yang gemar mengangkat
gelas cocktail, menulis risalah
untuk setiap manusia di masa depan,
di mana kemanusiaan berbatas hitungan
untung rugi perdagangan manusia
di pasar manusia.

Kelak, atas nama kemanusiaan
gas beracun dan nulir
menjadi aroma terakhir yang dihirup
seluruh penghuni bumi.

Karena para petinggi negara dunia
terlalu lama duduk satu meja
dalam hidangan makan malam
penuh basa-basi.

Semua yang berbusa-busa bernegosiasi
tentang hak hidup dan kemerdekaan
akhirnya selalu rela menonton
jutaan tubuh hancur dalam hitungan detik.

Dunia menangis atau tertawa.

Orang-orang mengirim doa kabung
sambil swafoto dan sendawa.

2018.

7.03.
PARA PEDAGANG

Bukan.

Ini bukan soal agama, Tuan-tuan. 

Peperangan datang  dari pasar.

Agama hanya semacam minyak.

Para pedagang menyalakan api. 

Bukan. Bukan batas negara
menjadi dalang dari sekian ratus juta
nyawa yang melayang itu.

Batas negara  menjaga nyawa.

Di pasar, nyawa hanya makanan murah.

Tuan-tuan tentu mengerti
kematian menjadi sumber keuntungan
dan permusuhan adalah jalan
yang harus diciptakan terus menerus.

Bukan. Pedagang bukan itu,
yang  tampak di permukaan itu
—yang melayani Tuan-tuan
dengan senyum dan sedikit senda gurau.

Mereka hanya orang suruhan.

Para pedagang menyamar
sebagai para pembeli yang kelewat antusias.

Berani bayar mahal
untuk setiap barang dagangan.

Di antara kerumunan pembeli
mereka menciptakan mitos
lalu orang-orang dijebak
dalam tawar menawar yang alot.

Mereka pergi ketika para pembeli
berebut barang dagangan.

Tuan-tuan,
bukan kewarganegaraan Tuan-tuan
atau kewarganegaraan saya
yang melahirkan ketegangan
dalam kepung bisik nasionalisme itu.

Para pedagang selalu berbicara
harga, sementara manusia
tidak dapat diberi label dan bandrol.

Karena itulah, mereka selalu mengingatkan
harga tanah, samudera, dan udara.

Mereka yang tidak pernah jauh dari narasi
ego kebangsaan mengembuskan angin
kedaulatan, mengajari kita mengokang senjata.

Tuan-tuan, omong kosong
tentang ras dan suku abadi di bumi
yang digadang-gadang
adalah omong kosong yang membuat
orang-orang kulit putih membantai
orang-orang berkulit hitam.

Suku Indian, suku tuan tanah
Paman Sam itu.

Para pedagang, kini, makin banyak
dan pasar terus dibangun.

Mereka menebar omong kosong
yang sama dengan wajah yang berbeda.

Karena di dalam perdagangan,
kemasan harus terus diperbarui
dibuat berbeda, dan menarik
agar tetap laku,
meski isinya itu dan itu juga.

Para pedagang itu
meletakkan senjata di perbatasan
melahirkan peperangan
demi langgengnya keuntungan.

Ketika korban bertumbangan
mereka datang sebagai yang paling berduka.

Kepada orang-orang yang menangis
dan marah, mereka berkata:
“Darah harus dibayar dengan darah!”

Negeri-negeri dihubungkan
dengan potongan tangan dan kepala.

Duka
dikemas dalam sejuta iklan!

Indonesia, 2016.

7.04.
PADA MUSIM KESEKIAN SETELAH PELARIAN

I/

Pada sebuah buku bersampul cokelat di pojokan
kamar, pada rak kayu tua, aku menemukan diriku
sendiri sedang telungkup, menulis prosa
di kertas buram yang kukumpulkan setiap usai
ujian akhir sekolah. Diriku yang menatap
dinding kamar tanpa jendela. Menatap sarang
laba-laba pada lemari jati tua peninggalan Belanda.

Sebelum tertidur tanpa memastikan
lelap pada jam dan menit ke berapa, detik ke berapa.

Prosa yang cengeng itu, kini telah dimakan rayap
di dalam lobang plafon, di kamar nenek.

Aku ketika itu sebenarnya bosan menulis
begitu banyak kalimat, berlembar-lembar
hanya untuk dibuang ke lobang plafon
atau karena nasib sedang sedikit lebih baik,
prosa itu kubakar di tungku, setiap akan masak air.

Tetapi aku butuh teman, atau setidaknya musuh
yang sepadan untuk memiliki dunia yang sama
sebagaimana anak-anak.  Menangkap burung,
mencari jangkrik, atau main kelereng.

Buku itu menyimpan begitu banyak nama.

Aku lupa mengapa aku mencatat nama-nama
dalam lingkaran dan kotak yang berbeda-beda.

Ada beberapa nama ditandai dengan spidol
dan aku tetap tidak ingat mengapa.

Beberapa gambar yang buruk pada halaman lain
masih dapat kuraba sebabnya, tapi samar
dan menimbulkan efek agak pedih di dada.

II

Di depan pintu dapur, aku melihat sepasang kaki
kecilku, menjuntai-juntai. Mataku menatap ibu
yang sedang memberi makan puluhan ayam
dan beberap bebek uwos. Lalu kakak-kakakku
juga adik-adikku berdesakan ikut duduk di depan
pintu. Tubuh anak-anak kecil memang kecil
pintu dapur yang tak seberapa lebar
cukup untuk anak-anak ibu duduk menghadap
kandang, menanti ibu kembali dengan beberapa buah
jambu di tangannya. Ia petik dari pohon yang entah
mengapa tumbuh begitu saja di sisi kandang.

Di dapur, ibu selalu masak besar.

Anak-anak ibu yang belasan jumlahnya tidak
mungkin dimasakkan satu liter beras.

Dapur sepi ini, dapur yang sangat ceriwis.

Termos, dangdang, dingklik, dan tungku
bercerita banyak hal, yang kuingat dan kulupa.

Ibu pernah berkata kepada adik bungsuku:
“Kalau kamu besar, kamu harus temani  ibu.

Kakak-kakakmu pasti sibuk. Mereka
akan meninggalkan rumah, hidup sendiri-sendiri.”

Adik bungsuku telah meninggal
beberapa tahun lalu. Adik pengais bungsu
juga sudah meninggal beberapa tahun lalu.

Ibu di dapur, kata tetanggaku, sering
membayangkan, aku, adik-adikku
dan kakak-kakakku masih ada di rumah.

Pada lembedang, kutemukan bedil-bedilan
yang kubuat dari kayu, sewaktu dulu.

Ibu masih menyimpannya dan akan terus
menyimpan setiap hal yang pernah kami buat.

Tetapi ibu ini waktu tidak ada di dapur.

III

Kitab-kitab kuning di ruang el, sebuah ruang
berbentuk “L”, adalah yang sangat akrab
dengan tangan dan suara abah. Tangan yang tabah
itu, adalah tangan yang dahulu selalu meraih
tubuh kecilku. Aku yang jarang mandi dan korengan
tidak pernah membuatnya malu.

Abah yang terpandang, dari keluarga kalangan
bernama, tidak pernah memaksaku
menjadi sedikit  lebih rapi dan tampan. Karena aku
anak yang ia jaga tanpa syarat dan ketentuan
dan Abah memang seperti kaum Brahmana
yang memilih menjadi bagian dari kaum Sudra.

Katanya, kehormatan-kehormatan palsu
di tengah manusia, tidak layak dibanggakan.

Jadi kami sama tidak memiliki cita-cita
mengemas diri. Waktu aku
yang sedang main tanah, berlari ke arah Abah
sebelum bus berangkat ke Jakarta
menjemput orang pulang haji, kata  Abah,

Abah tidak meninggalkanku. Tangannya
yang selalu berhasil membuatku merasa aman
meraihku. Tubuhku bersandar di dada Abah.

Beberapa saat kupandangi wajah kota
dari balik kaca jendela bus, sebelum akhirnya
aku tidur dibersamai degup jantung Abah.

Kitab-kitab kuning itu, kini teronggok
sebagai yang berbicara sendiri kepadaku.

Di el tidak ada suara Abah. Padahal ini bukan
musim tanam atau musim panen. Kata ibu
dahulu, musim di antara musim tanam
dan musim panen adalah musim “antare”.

Musim antare begini, di jam pagi begini
Abah mestinya ada di rumah, di ruang el,
membaca kitab kuning. Tetapi suara tipisnya
belum juga kudengar. Jendela gaya lama
terbuka, gordeng hijau yang lusuh
seperti tangan-tangan masa lalu
yang melambai-lambai kepadaku. Tetapi aku
tidak mau diajak berjalan terlalu jauh. Dadaku
tidak sanggup lagi menampung catatan
tentang setiap hal yang telah hilang.

IV

Di kamar, mataku kembali kepada buku
bersampul cokelat. Di luar buku, dunia
terus bergerak  sebagai masa kini dan masa depan
sementara masa lalu mengambang
sebagai yang tak berjarak dari napasku.

Semua berdatangan. Semua berlaluan.

Semua berkakuan. Semua bertumbangan.

Sesekali dunia  utuh. Sesekali dunia hancur.

Dunia utuh dan dunia hancur
bertopangan seperti dua singa laut lapar
yang saling mengunyah.  

Oh aku lupa, kapan aku meninggalkan
kebiasaan berlama-lama duduk di pintu dapur.

Bahaya sekali, tiba-tiba aku merasa ingin
kembali menjadi anak kecil.

Kenakalan yang lugu, ketakutan-ketakutan
yang manja, mimpi-mimpi mungil,
dan kebahagiaan-kebahagiaan
yang sederhana itu berlarian ke muka buku
berlompatan di kepalaku. Menjadi kata-kata
yang janggal. Menjadi kalimat
yang gagal disusun. Menemui kenyataan.

Meninggalkan kenyataan. Tanda baca
dan tanda kabung, sama menggantung.

Apa yang semestinya kuhapus?

Buku yang telah ditutup dan ditinggalkan
ratusan musim itu, hanya museum sepi
yang cerewet mengisahkan yang tak perlu.

Dunia di luar buku, ganas dan tak punya hati.

Ini usia bertengger dan meninggi.

Memang tak perlu diharu-biru
tapi tetap saja ada yang ingin kukatakan.

Ibu dan Abah, kemana pergi pagi begini?

Banten, 2014.

7.05.
DI SEKITAR TUNGKU YANG SELALU KAU NYALAKAN    

Tungku itu masih menyala seperti tiga puluh tahun lalu.

Membersamaimu memasak untuk makan sehari-hari.

Sesekali tungku itu lebih sibuk ketika hajatan
kumpul bersama anak cucu, atau perayaan-perayaan.

Kesetiaanmu itu telah dimulai sejak dinikahi Abah.

Sejak keinginan-keinginanmu dicukupkan di situ.

Sebuah rutinitas hidup yang menjemukan.

Bangun subuh sekali untuk menyalakan api,
meletakkan dangdang, memasak apa saja yang ada.

Di situ kau menetap, dari suatu hari ke hari yang lain.

Dari kelahiran anak pertama ke kelahiran yang lain.

Dari kebersamaan kepada perpisahan-perpisahan.

Dari menimang kedatangan dan melepas kepergian.

Suatu ketika kelak, tungku itu akan kehilangan api.

Mencari tanganmu, mencari napasmu
yang mengalir agak kasar melalui lubang semprong.

Sebuah dapur mungkin akan terus dikunjungi
oleh setiap yang pernah melahap masakanmu
di dekat tungku atau sedikit menjauh di depan pintu.

Sebab kitab-kitab ketabahanmu tersembunyi
pada abu dingin dari kayu yang tak keburu seutuhnya
terbakar. Semua akan mencari jejak sabda
yang senantiasa kau ucapkan dengan bahasa diam.

Memeriksa getar bunyi pada sunyi rongga dangdang.

Kau yang telah khatam memaknai garis tangan,
mengerti bahwa bukan dari tungku galur nasib
tak berjarak di situ, tapi dari keralaanmu
memenjarakan diri dari godaan jalan ke dunia luar
seumur hidup. Karena kau seorang ibu
dan menjadi seorang ibu bagimu adalah bersedia
menjaga tungku, menjadikan tubuhmu
sebagi satu-satunya alamat pulang anak-anakmu.

Sekali waktu, kau memang terkejut dan tertegun
menatap nyala api yang semakin kecil
dan beras pada dangdang yang semakin sedikit.

Anak-anakmu telah lama meninggalkan rumah,
tapi kau tetap memilih bersetia di situ,
menanti mereka kembali kepadamu,
di sekitar tungku itu.

7.06.
KEGEMBIRAAN KECIL-KECILAN

Detik, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun-tahun
hanya ilusi yang disepakati
agar saya dan Anda dapat sedikit bergembira
karena merasa hidup untuk waktu lama.

Kita telah menghitungnya puluhan tahun.

Membuat pesta setiap tanggal kelahiran.

Seolah kita suka pada kelebat bayang tangan maut
mendekat dan menyambutnya
dengan lagu dangdut dengan sedikit sentuhan blues.

Anda pasti mengerti, sebuah lilin dinyalakan
untuk ditiup. Kita bertepuk tangan untuk itu.

Sebuah prilaku aneh yang kita nikmati.

Atau tabiat manusia memang begitu?

Kita yang makan setiap hari, berak setiap hari.

Karenanya, saya, Anda, dan semua orang
suka sekali mengadakan perayaan.

Api yang lekas dipadam setelah doa seremonial itu.

Kue yang dibagikan kepada orang-orang tercinta.

Semua adalah yang sengaja dibuat sebagai alasan
tak masuk akal untuk sejenak berpaling
dari kenyataan bahwa di jagat manusia ini
tak ada yang sungguh sempurna dan kekal.

Tetapi itu menjadi masuk akal ketika kita
sepakat bahwa kita mesti selalu menciptakan
kegembiraan kecil-kecilan
karena kita hanya makhluk kecil di bumi.

Mempercayai ketidakkekalan memang menyakitkan.

Jutaan lagu dan puisi asmara sering sekali
menggunakan kata “kekal” untuk menghibur diri saja.

Karena mereka sendiri tak meyakininya.

Orang-orang yang jatuh cinta takkan mampu
menerima hari perpisahan penolakan, atau, oh
tangan terulur yang sama sekali tak disambut itu.

Tetapi kesukaan, kehendak, dan harapan
semacam boneka kucing yang kita peluk
menjelang tidur kita yang tidak ada apa-apa.

Saya juga Anda telah lama membersamainya
dengan baik.

Suka atau tidak suka, banyak
orang yang melakukan apa yang kita lakukan.

Orang-orang yang telah begitu lama hilang.

Orang-orang tinggal nama pada sebuah kubur.

Beberapa nama memang masih dikisahkan
dengan bunga-bunga yang, kadang aneh.

Selebihnya, dilupakan sebagai yang pernah ada.

Saya, Anda, dan semua manusia
di antara manusia sama sekali tidak istimewa
sekalipun manusia diciptakan
sebagai makhluk istimewa
—itupun karena kita meyakininya.

Jadi, Anda dan saya, tidak perlu ikut-ikutan
punya cita-cita dicatat di buku sejarah.

Kita pada waktu hidup yang tidak seberapa ini
harus memisahkan diri dari golongan
orang-orang menderita
meski kita sama-sama menciptakan
kebahagiaan kecil-kecilan sebagi makhluk kecil
yang akan segera dilupakan.

Jurong Bird Park, 2017.

7.07.
HARI PERTAMA SETELAH KEKALAHAN

… akhirnya aku kembali menyaksikan manusia
berbicara dengan nada rendah.

Langit  gelap berpendar pias dan udara
seperti wajah perawan dipinang perjaka.

Dingin mengumpar
di pucuk-pucuk daun itu mengabarkan,
angkara telah padam. Manusia kembali kepada suara
batin yang murni.

Tidak ada yang memiliki apa-apa. Tidak ada lagi
yang layak dipertengkarkan.

Tubuh para lelaki yang gigil di kemah berdekapan.

Mereka memandang  hutan diaromai kabut
yang murung lalu mengingat hari-hari berat
ketika mereka meyakini kekerasan
sebagai jalan untuk mempertahankan hidup.

Seorang dari mereka berkata: “Sudah begitu lama
aku menanti hari kekalahan ini tiba!”

Gagak, srigala, katak, dan jangkrik bersuara
seperti orkestra yang dimainkan seratus malaikat.

Perbukitan menguping percakapan
dalam sunyi. Kenyataan di antara nyala kayu
yang ditatap perempuan-perempuan tanpa bedak
dan gincu itu adalah tangis bayi yang terlepas
dari gua garba.

Anak-anak tidak berduka.  Tanpa televisi,
telepon genggam dan game online, mereka melihat dunia
begitu menyenangkan.

Bukit Palem, 2016.

7.08.
SETIAP ANAK YANG TERLAHIR

Anak-anak yang terlahir, tumbuh
dan memilih hidupnya sendiri
adalah anak-anak
yang pada akhirnya merindukan kehangatan
rahim seorang ibu.

Dalam kedewasaan
hidup adalah sekumpulan kode rumit
berjungkalan dan bertindihan.

Semua yang dilahirkan
senantiasa mendamba suatu ketika
yang tak sama sekali
menginginkan apa-apa
semua yang lahir ingin menemui lagi
diri yang tidak ada apa-apa.

Tetapi setiap anak yang pada mulanya
tak pernah punya rencana
meninggalkan ketenteraman dekap ibu
ditakdirkan menjadi pengelana
takkan memiliki kesempatan
untuk sungguh-sungguh kembali
kepada setiap hal
yang telah ditinggalkan.

Cilegon, 2018

7.09.
ALIF LAM RO
: Sebuah rahasia teruntuk adikku, Jamil Abdul Aziz

Alif Lam Ro.
Aku membaca rahasia dan menemukan rahasia.

Ketika yang kasat mata jadi tiada nilai
dan yang tampak tiada, begitu dekat dari penglihatan.

Sekian detik jarak dari hitungan makhluk fana
yang bikin segala kehilangan
isi. Itulah sebab, kekacauan tidak bisa dihentikan.

Bumi maha bisu ini melahirkan manusia
dengan suara yang enggan diam.

Manusia  terus bicara, tapi tidak ada
yang sungguh-sungguh diperdengarkan,
sedangkan orang-orang mendengar dalam ketulian
yang sempurna.

Alif Lam Ro.
Aku membaca rahasia dan menemukan rahasia.

Di antara suara-suara kacau kebenaran jadi bau.

Setiap mulut yang menganga
mengantarkan berita bohong dan teror ke udara.

Pancaroba! Di mana-mana musim pancaroba!

Itulah mengapa pendengaran kita penuh angin
juga khayalan. Manusia
berkerumun untuk bertarung di segala tanah.

Dan bumi ini telah dialpakan dari intinya demi hela
napas yang terarah pada kekosongan.

Alif Lam Ro.
Aku membaca rahasia dan menemukan rahasia.

1436 H.

7.10.
FAN…

Cerdas cermat hanya milik anak sekolah dasar, Fan.

Kebenaran dan kesalahan
yang tak menjadi apa-apa itu.

Selebihnya pengetahuan berjalan pada kepala
sebagai onggokan serabut.

Seorang penghafal teori-teori kebenaran
berkata, dunia diciptakan
bukan untuk perang buta.

Ia yang selalu kagum pada rangkaian kode rumit
dalam narasi pembuatan nuklir
hanya melihat cara tangan manusia bergerak.

Aku tak perlu berlebihan melibatkan perasaan
di antara klangenan masa silam
dan kontradiksi antara arah kata dan
tubuh manusia kini.

Kau tentu tahu, baiknya aku begitu.

Tetapi jika kau bertanya
lalu aku menjawab,
dapatkah kau percaya pada pengetahuanku?

Yang berjarak tetaplah berjarak sekalipun jarak
adalah ide yang gagal
pada setiap penjelmaannya.

Cilegon, 2018.