5. MUHAMMAD IQBAL ALFAHRI

BIODATA. xxxxx

PUISI
5.1. Ahoooiii… Negeri Deli
5.2. Terjaga
5.3. Kisah Cinta.
5.4. Rayuan Cuaca.
5.5.
5.6.
5.7.
5.8.
5.9.
5.10.

5.01.

AHOOOIII… NEGERI DELI

Ahoooiii… Negeri Deli
Setiap insan memandangmu sebagai cahaya agung dari Pulau Sumatera
Diberkahi wujudmu dengan kekayaan dan keindahan
Dari balik tirai-tirai sejarah tergambar wajah-wajah tanpa dosa tersenyum ikhlas menyambut para pendatang

Ahoooiii… Negeri Deli
Puak Melayu riang gembira songsong cita di tanah bertuah
Maimun dan Al-Mashun berdiri megah tuk pertahankan marwahmu
Tak akan Melayu hilang di atas bumimu karena kan tetap Melayu kau sepanjang masa

Ahoooiii… Negeri Deli
Dunia menjadi saksi bahwa alammu adalah berkah dari Allah Yang Maha Kuasa
Air, tanah, dan udaramu sajikan cinta yang tertambat dalam hati
Dentuman gendangmu adalah penawar bagi siapa saja yang haus akan kebahagiaan
Tari Serampangan XII sambut mereka tuk berkunjung ke negeri tembakau sang sultan.

5.2.

TERJAGA

Malam semakin larut
Hembusan angin menusuk tulangku
Senyum tak lagi terpampang
Tapi aku masih ingin terjaga.

Aku tak bisa berhenti berfikir
Melayang fikirku kepada era kemudian
Bagaimana dan mau jadi apa nantinya?
Terus terngiang-ngiang di dalam benakku.

Namun seketika aku tersadar
Bahwa kita menjalani takdir kita masing-masing
Dan aku tak akan pernah menyerah kepada takdirku
Aku bisa, aku mampu, aku akan guncang dunia.

5.03.

KISAH CINTA

Cinta adalah sebuah puncak dari ledakan kasih sayang

Cinta mewakili senyuman semesta kepada seluruh jiwa yang haus akan hadirnya

Dia menari riang di dalam tubuhku sebagai makhluk yang baik lakunya

Pikir cinta hanya memberi dan hanya itu sajalah maunya

Terkadang cinta akan berubah menjadi makhluk yang buruk lakunya saat posisinya terancam

Dia mampu menghujam beribu tusukan di jantungku hingga aku merasa lebih baik mati saja

Aku terlentang, meronta, meraung kesakitan

Aku ingin bangkit namun terlalu lemah untuk itu

Aku terus berusaha namun jatuh berkali-kali

Aku meminta pertolongan namun setiap jiwa juga merasakan hal yang sama

Teriak, aku berteriak

Dan seketika aku tersadar butuh cinta adalah hadirmu
[11:17 AM, 4/1/2019] Iqbal Alfahri Medan: Puisi Muhammad Iqbal Alfahri

5.04.

RAYUAN CUACA

Mendung, gerimis lalu hujan

Cuaca menyimpan kenangan di dalam setiap kepala

Sebagian mengingat kepada luka dan sebagian lagi berpihak pada tawa

Aku duduk di beranda rumah

Menyeruput secangkir kopi hangat dan setoples kudapan

Cuaca terus merayuku dengan hawa dinginnya

Ia tak ingin aku tak terbuai karenanya

Ia terus menggodaku dan berusaha menjamah isi kepalaku

Ia berhasil membuatku bernostalgia

Aku tertawa terbahak-bahak namun ingin meluapkan air mata juga

Cuaca memang ahlinya bermain dengan rasa

Aku tak ingin terbuai lagi

Mungkin lain kali aku akan memilih memejamkan mata indahku dari pada harus berhadapan dengan makhluk bernama cuaca

Selamat tinggal cuaca.

5.05

xxxxxxxxxx